Tampilkan postingan dengan label oase. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label oase. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Mei 23, 2009

Amal-Amal Penyelamat Umat Muhammad


Suatu ketika terjadi tabrakan yang sangat keras antara dua kendaraan, yang menyebabkan pengendaranya luka berat. Masyarakat pun berdatangan untuk memberikan pertolongan. Pengendara pertama yang ditolong ternyata seorang pemuda. Wajahnya bersih bersinar dan tampak tersenyum kendati tubuhnya penuh luka. Ia tengah menghadapi sakaratul maut. Kedua bibirnya tampak bergerak-gerak seperti mengucapkan sesuatu. Seseorang yang menolongnya mencoba mendekatkan telinganya ke bibir pemuda itu, ia tercenung bercampur haru dan takjub. Apa yang didengarnya? Ternyata pemuda itu tengah melafalkan ayat suci Alquran hingga menghembuskan napas terakhirnya.

Adapun pengendara kedua, juga seorang pemuda. Tubuhnya penuh luka, dan bibirnya pun bergerak-gerak seperti mengucapkan sesuatu. Si penolong itu merasa penasaran dan mendekatkan telinganya ke bibir sang pemuda. Apa yang didengarnya? Ternyata dari bibir pemuda itu terlantun sebuah lagu rock, dan ini terus terdengar dari mulutnya hingga tarikan napasnya yang penghabisan. Belakangan si penolong mengetahui lebih jauh tentang siapa pemuda yang pertama tadi.

Ternyata pemuda itu tengah melakukan tugas rutin yang dilakukannya setiap bulan, yaitu mengunjungi fakir miskin di suatu kampung untuk membagikan makanan dan pakaian bekas yang ia kumpulkan selama satu bulan. Saat kejadian itu pun tampak di mobilnya beberapa bungkus makanan dan pakaian. Sementara di dashboard mobilnya ditemukan beberapa kaset bacaan Alquran dan ceramah.

Bagaimana dengan pemuda yang satunya lagi? Tentu tidak perlu diungkapkan lebih lanjut di sini. Hanya saja, dengan kejadian tersebut, si penolong dan tentu kita semua seakan diberi gambaran oleh Allah SWT tentang amal seseorang ketika hidup dan kira-kira apa yang dialami keduanya setelah nyawanya tercerabut. Oleh karena itu, Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah menukilkan sebuah Hadis Rasulullah yang cukup panjang tentang amalan-amalan yang bisa menyelamatkan seseorang dari kesulitan di akhirat kelak.

Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Madini berbunyi, Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya aku semalam bermimpi melihat hal yang sangat menakjubkan. Aku melihat seorang dari umatku yang didatangi oleh malaikat untuk mencabut nyawanya, lalu datang amalnya kepadanya dalam berbakti kepada dua orang tuanya, sehingga amal itu membuat malaikat itu kembali lagi.

Aku melihat seseorang yang telah dipersiapkan kepadanya siksa kubur, lalu datang wudhunya, sehingga wudhunya itu menyelamatkannya dari siksa kubur. Aku melihat seseorang yang telah dikepung banyak setan, lalu datang kepadanya zikirnya kepada Allah, sehingga zikirnya itu mengusir setan-setan tersebut darinya. Aku melihat seseorang yang kehausan, sedang tiap kali ia mendekati telaga, ia diusir darinya. Lalu, datanglah shaum Ramadhannya, sehingga shaumnya itu memberikan minum kepadanya. Aku melihat seseorang di mana para nabi masing-masing duduk dalam halaqah, ia diusir dan dilarang untuk bergabung ke dalamnya.

Lalu, datanglah mandinya dari hadas besar, sehingga mandinya itu membimbing ia dengan memegang tangannya seraya mendudukannya di sampingku. Aku melihat seseorang yang di depannya gelap sekali, begitu pula di belakang, atas, dan bawahnya, sehingga ia kebingungan mencari arah jalannya. Datanglah kepadanya haji dan umrahnya, lalu keduanya mengeluarkan ia dari kegelapan tersebut dan memasukkannya ke dalam tempat yang terang sekali. Aku melihat seseorang yang melindungi mukanya dengan tangannya dari panasnya kobaran api, lalu datang sedekahnya kepadanya dengan menutupi kobaran api dari mukanya seraya membimbingnya ke hadapan Allah SWT.

Aku melihat seseorang yang mengajak bicara orang-orang mukmin, tetapi mereka mendiamkannya. Datanglah silaturahminya seraya berkata, 'Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya ia adalah orang yang melakukan silaturahmi, maka ajaklah dia bicara'. Maka, orang tersebut diajak bicara oleh semua orang mukmin dan mereka mengulurkan tangan untuk berjabatan dengannya, sementara ia pun mengulurkan tangannya untuk berjabatan dengan mereka.

Aku melihat seseorang yang telah dicengkeram Malaikat Jabaniyyah, lalu datanglah kepadanya amal ma'ruf nahyi munkar-nya, hingga amalnya itu menyelamatkan ia dari siksa Jabaniyyah dan memasukannya ke dalam lingkungan malaikat rahmat. Aku melihat seseorang yang jalannya merangkak dengan kedua lututnya dan di depannya terdapat tabir yang memisahkan ia dengan Allah, lalu datanglah akhlak baiknya seraya memegang tangan dan membimbingnya ke hadirat Allah SWT.

Aku melihat seseorang yang catatan amalnya datang dari sebelah kirinya, lalu datanglah takwanya kepada Allah dan mengambil buku tersebut dengan meletakkannya di tangan kanannya. Aku melihat orang yang timbangan amalnya sangat ringan, lalu datang anak-anaknya yang meninggal waktu kecil, sehingga mereka memberatkan timbangan amal baiknya tersebut. Aku melihat seseorang yang berdiri di tebing Jahannam, lalu datanglah harapannya kepada Allah, hingga harapannya itu menyelamatkannya dari Jahannam dan ia berjalan menuju syurga dengan selamat.

Aku melihat seseorang yang terpelanting di atas neraka, lalu datanglah air matanya karena takut pada Allah, hingga air mata itu menyelamatkannya dari jatuh ke neraka. Aku melihat seseorang yang tengah berada di atas jembatan dengan tubuh gemetar, lalu datang husnudzannya pada Allah, hingga sikapnya itu menjadikan dia tenang dan ia pun berjalan dengan lancar.

Aku melihat seseorang yang jatuh bangun di atas jembatan. Terkadang ia merangkak, terkadang pula ia menggantung. Lalu datanglah shalatnya menegakkan kedua kakinya dan menyelamatkannya hingga ia mampu menyeberangi jembatan sampai ke pintu syurga. Aku pun melihat pula seseorang yang telah sampai ke pintu syurga, semua pintu ditutup baginya. Lalu datanglah syahadatnya, sehingga dibukalah pintu syurga dan ia pun bisa masuk ke dalamnya". Itulah gambaran tentang amalan-amalan yang dengan izin Allah SWT bisa menjadi penyelamat umat Muhammad SAW yang benar-benar melaksanakan perintah Allah dan sunnah Rasulullah dengan hati ikhlas.( KH Abdullah Gymnastiar)

Jumat, Mei 15, 2009

Kasih Sayang Allah swt Tak Terbatas


Allah swt berfirman, “mintalah (berdoalah) kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan bagimu.” (QS. Al-Mu`min:60)


Tatkala Dzunnun Al Misri hendak mencuci pakaian di tepi sungai Nil, ia melihat seekor kalajengking yang sangat besar hendak menyengat dan mendekati dirinya. Ia pun cemas dan segera memohon perlindungan kepada Allah swt agar terpelihara dari cengkraman hewan itu. Saat itu pula kalajengking tersebut malah membelok dan berjalan cepat menyusuri tepi sungai. Dzunnun pun mengikuti di belakangnya.

Kalajengking itu terus berjalan menuju pepohonan yang rindang. Di bawah salah satu pohon yang berdaun banyak itu berbaringlah seorang pemuda yang sedang dalam keadaan mabuk. Kalajengking itu pun mendekati pemuda yang sedang terlelap itu. Dzunnun yang mengamati kejadian itu sangat khawatir kalau-kalau kalajengking itu akan membunuh pemuda itu.

Dzunnun semakin takut dan kaget ketika tiba-tiba ada seekor ular yang juga mendekati pemuda itu. Akan tetapi yang terjadi kemudian sangatlah di luar dugaannya. Sang kalajengking justru menyengat kepala ular itu sehingga ular tersebut tak berkutik lagi.

Setelah itu, kalajengking berjalan meninggalkan pemuda yang masih tertidur itu dan kembali ke sungai. Dzunnun pun mengikuti kalajengking itu hingga ke tepi sungai. Kemudian Dzunnun kembali lagi ke tempat pemuda mabuk tadi dan berkata,

Wahai orang yang sedang kelelapan
Allah Yang Maha Agung selalu menjagakan
Dari setiap kekejian yang menimbulkan kesesatan
Mengapa bisa si pemilik mata sampai ketiduran?
Padahal mata itu dapat mendatangkan berbagai kenikmatan
.”

Ternyata si pemuda mabuk mendengar perkataan Dzunnun. Ia bangun dalam keadaan terperanjat. Dzunnun pun langsung menceritakan apa yang telah terjadi. Maka, setelah si pemuda mendengarkan cerita Dzunnun, ia langsung bertaubat kepada Allah swt. Ia menjadi sadar, betapa kasih Allah swt sangat besar kepada hamba-Nya, bahkan kepada seorang pemabuk seperti dirinya, Allah swt masih memberikan perlindungan dan kesempatan untuk bertaubat.

Kasih sayang Allah swt kepada hambanya memang tak terbatas. Bahkan kepada orang yang telah berbuat dosa. Allah swt masih memberikan nikmat-Nya melalui kehidupannya di dunia, berkumpul dengan keluarga dan orang-orang yang disayanginya, serta nikmat lainnya. Selain itu, Allah swt juga memberikan kasih-Nya dengan mengampuni dosa-dosa seseorang apabila ia memohon ampunan Allah dan bertaubat.

Dari Anas bin Malik, dia berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Allah swt berfirman, ‘Wahai Anak Adam (manusia)! Sesungguhnya apa yang kamu minta dan harapkan kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuni dosa-dosamu dan Aku tidak peduli. Wahai Anak Adam! Andaikata dosa-dosamu mencapai awan di langit (sejauh mata memandang ke langit), kemudian kamu meminta ampun kepada-Ku niscaya Aku akan mengampunimu. Wahai Anak Adam! Sesungguhnya andaikata kamu datang kepada-Ku dengan membawa dosa-dosa (kecil) sepenuh isi bumi, kemudian kamu bertemu dengan-Ku (mati dengan memohon ampun dan tanpa berbuat syirik), tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu apapun, niscaya Aku akan mendatangkan ampunan kepadamu sepenuh isinya pula.” (HR. at-Turmudzy)

Allah Maha Mulia dan Maha Baik. Allah selalu mengampuni hamba-Nya yang telah berbuat dosa. Allah senantiasa mengampuni dan merahmati hamba-Nya. Manusia sungguh sangat kecil di mata Allah, dengan segala keterbatasan dan kesalahan yang ada pada manusia. Untuk itulah, manusia diciptakan Allah swt untuk tunduk kepada-Nya, meminta ampunan kepada Allah swt untuk kembali ke jalan yang lurus dan diridhoi oleh Allah swt.


Kamis, Mei 14, 2009

Nikmat Allah


Mensyukuri nikmat yang diberikan Allah swt merupakan salah satu amalan mulia yang harus dilakukan oleh setiap muslim. Allah swt telah memberikan kita nikmat dalam bentuk kebahagiaan, kemudahan dalam hidup, rezeki yang melimpah ruah.

Pada saat kita tertimpa musibah maupun telah terlepas dari musibah tersebut, kita harus tetap memperbanyak syukur kepada Allah swt. Allah swt mencintai umat-Nya yang selalu bersyukur dengan menambah nikmat itu lebih banyak lagi. Sebagaimana firman Allah: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim:7)

Terkadang kita lupa bersyukur atas apa yang telah kita dapatkan hingga hari ini. Khususnya di kala kita sedang senang, kita lupa dengan Sang Pemberi nikmat. Dan di kala kita jatuh ke dalam kesulitan, barulah kita menyadari bahwa kita kurang bersyukur pada Allah swt.

Dalam surat Ibrahim ayat 34 dan surat An-Nahl ayat 18, disebutkan bahwa nikmat Allah sangatlah banyak hingga kita tidak mampu untuk menghitungnya.

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya.” (QS. Ibrahim:34)

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl:18)

Allah swt memberikan nikmat kepada setiap umat-Nya. Bahkan orang/golongan yang kita sebut sebagai fakir miskin pun wajib bersyukur karena Allah swt telah memberikan nikmat berupa kesehatan tubuh dan udara untuk bernapas.

Dalam suatu hadits, para sahabat Rasul bertanya kepada Rasulullah saw, “Ya Rasulullah, nikmat manakah yang telah kita terima? Roti gandum, itupun tidak mengenyangkan.” Maka Allah swt menurunkan wahyu kepada Rasulullah saw, “Tidakkah kamu memakai pakaian? Tidakkah kamu minum air dingin? Yang demikian itu pun adalah nikmat-nikmat Allah.”

Sedangkan bagi kita yang bekerja mengais rezeki setiap harinya, bukan saja demi mendapatkan gaji setiap bulannya, namun juga dapat dikategorikan sebagai ibadah dalam memperoleh pahala dan keberkahan apabila benar-benar diniatkan karena Allah swt. Apalagi bila rezeki yang kita cari dan peroleh didapatkan dari usaha yang halal, subhanalllah…

Maka ingatlah selalu sabda Rasulullah saw yang berbunyi: “Setiap daging yang tumbuh dari sumber yang haram maka api nerakalah yang lebih layak baginya.” (HR. At-Tarmidzi) Nauzubillahiminzalik…

Berikut ini merupakan pekerjaan yang yang dinilai sebagai ibadah menurut Dr. Yusuf Al-Qardhawi dalam bukunya yang berjudul “al-Ibada fil-Islam”:

  1. Pekerjaan yang dilakukan haruslah mempunyai niat untuk mencari keridhoan Allah swt, ikhlas demi mencari rezeki yang halal.
  2. Pekerjaan tersebut tidak melanggar syariat Islam.
  3. Selama bekerja tidak menganiaya orang lain, mengambil harta/hak orang lain, menipu, mencuri, mencari keributan, dan perbuatan zhalim lainnya.
  4. Pekerjaan tersebut dilakukan dengan kesungguhan dan penuh komitmen (tanggung jawab).
  5. Dalam bekerja juga tidak melupakan ibadah yang wajib yaitu sholat dan mengeluarkan zakat.

Apabila Allah swt telah memberikan kita rezeki yang melimpah, gaji atau penghasilan yang cukup, hendaklah kita tidak menjadi lupa daratan dengan berfoya-foya dan membelanjakan uang yang kita miliki secara berlebihan. Terlebih di saat ini, dimana perekonomian sedang tidak menentu, berhemat sangatlah penting untuk dilakukan. Salah satu rasa syukur yang dapat diwujudkan yaitu dengan berbagi kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Ingatlah bahwa terdapat hak orang miskin dari setiap penghasilan yang kita dapatkan. Hal ini juga sangat mulia bila dibandingkan dengan sifat hura-hura ataupun berfoya-foya. Allah swt berfirman, “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al Furqan:67)

Oleh karena itu, mulai hari ini dan seterusnya marilah kita senantiasa mensyukuri setiap nikmat yang diberikan oleh Allah swt, karena kita hidup di dunia pada dasarnya adalah mengharapkan berkah dan ridho Allah swt. Allah swt telah berfirman, “Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Luqman:12)

Wallahualam bishshawab.

Selasa, Mei 12, 2009

Ikhlas Karena Allah swt


Dunia adalah ujian bagi seluruh penghuninya, terutama manusia yang memang telah diciptakan dengan nafsu, akal, dan hati. Manusia yang memang telah ditakdirkan oleh Allah swt untuk menjadi khalifah di muka bumi, tentu tidak akan ada yang dapat terlewat dari jerat ujian dan cobaan hidup yang diberikan oleh Allah swt.

Ikhlas, adalah sebuah kata sederhana yang hanya tersusun dari lima huruf saja. Ikhlas, merupakan sebuah kata yang mengandung makna yang sangat indah. Kata ini sangat mudah untuk diucapkan, namun sangat sulit untuk direalisasikan.

Dalam ajaran agama Islam, kata ikhlas ini senantiasa dikaitkan dengan ridho Allah swt. Artinya, sebuah perbuatan baru dikatakan sebagai perbuatan yang ikhlas manakala tidak mengharapkan imbalan sekecil apapun, kecuali hanya mengharapkan balasan dan ridho Allah swt. Hal ini telah disampaikan oleh Allah swt di dalam Al Quran yang artinya:

“Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata: "Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebahagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah", (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka).” (QS. At Taubah : 59)

Ikhlas, yaitu bersih dari segala bentuk pamrih dan harapan kepada selain Allah swt, sebesar apapun pamrih dan harapan tersebut. Satu-satunya harapan yang boleh dan wajib ada di dalam sebuah keikhlasan hanyalah keridhoan Allah swt semata. Berikut kami sajikan sekelumit kisah yang menggambarkan betapa pentingnya sifat ikhlas bagi manusia.

Abdullah bin ‘Umar ra berkata: Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda, ”Terjadi pada masa dahulu sebelum kamu, tiga orang berjalan-jalan hingga terpaksa bermalam dalam sebuah gua. Ketika mereka telah berada di dalam gua itu, tiba-tiba jatuh sebuah batu besar dari atas bukit dan menutupi pintu gua itu, hingga mereka tidak dapat keluar. Maka berkatalah mereka: “Sungguh, tiada suatu apapun yang dapat menyelamatkan kami dari bahaya ini, kecuali jika tawassul kepada Allah swt dengan amal-amal shalih yang pernah kami lakukan dahulu kala”. Maka berkatalah salah seorang dari mereka: “Ya Allah, dahulu saya mempunyai ayah dan ibu, dan saya biasa tidak memberi minuman susu kepada seorangpun sebelum keduanya (ayah-ibu), baik pada keluarga atau hamba sahaya, maka pada suatu hari agak kejauhan bagiku menggembala ternak, hingga tidak kembali pada keduanya, kecuali sesudah malam dan ayah bundaku telah tidur. Maka saya terus memerah susu untuk keduanya, dan sayapun tidak akan memberikan itu kepada siapapun sebelum ayah bunda itu. Maka saya tunggu keduanya hingga terbit fajar, maka bangunlah keduanya dan minum dari susu yang saya perahkan itu. Padahal semalam itu juga anak-anakku sedang menangis meminta susu itu, di dekat kakiku. Ya Allah, jika apa yang saya perbuat itu benar-benar karena mengharapkan keridhoan-Mu, maka lapangkanlah keaaan kami ini”. Maka menyisih sedikit batu itu, hanya saja mereka belum dapat keluar daripadanya.

Kemudian, berdoalah yang kedua dari mereka: “Ya Allah, dahulu saya pernah terikat cinta kasih pada anak gadis pamanku, maka karena rasa cinta kasihku itu, saya selalu merayu dan ingin berzina dengannya, tetapi ia selalu menolak hingga terjadi pada suatu saat ia menderita kelaparan dan datang meminta bantuan kepadaku, maka saya berikan kepadanya uang seratus dua puluh dinar, tetapi dengan janji bahwa ia akan menyerahkan dirinya kepadaku pada malam harinya. Kemudian ketika saya telah berada di antara kedua kakinya, tiba-tiba ia berkata: ‘Takutlah kepada Allah swt dan janganlah kau pecahkan tutup kecuali dengan cara yang halal’. Maka saya segera bangun daripadanya padahal saya masih tetap menginginkannya, dan saya tinggalkna dinar mas yang telah saya berikan kepadanya itu. Ya Allah, jika saya berbuat itu semata-semata hanya karena mengharap ridho-Mu, maka hindarkanlah kami dari kemalangan ini”. Maka bergeraklah batu itu menyisih sedikit, tetapi mereka masih belum dapat keluar dari gua tersebut.

Maka berdoalah orang ketiga dari mereka: “Ya Allah, saya dahulu sebagai majikan, mempunyai banyak buruh pegawai, dan pada suatu hari ketika saya membayar upah buruh-buruh itu, tiba-tiba ada seorang dari mereka yang tidak sabar menunggu, segera ia pergi meninggalkan upah dan terus pulang ke rumahnya tidak kembali. Maka saya pergunakan upah itu hingga bertambah dan berbuah hingga merupakan kekayaan. Kemudian setelah lama, datanglah buruh itu dan berkata: ‘Hai Abdullah, berikanlah kepadaku upahku yang dahulu itu!’ Jawabku: ‘Semua kekayaan yang di depanmu itu daripada upahmu yang berupa unta, lembu dan kambing serta budak penggembalanya itu’. Berkata orang itu: ‘Hai Abdullah, kamu jangan mengejek kepadaku’. Jawabku: ‘Aku tidak mengejek kepadamu. Maka diambilnya semua yang saya sebut itu dan tidak meninggalka satupun daripadanya’. Ya Allah, jika saya berbuat itu hanya karena mengharapkan keridhoan-Mu, maka hindarkanlah kami dari kesempitan ini”. Tiba-tiba menyisihlah batu itu hingga keluarlah mereka dengan selamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sumber: Kitab Riyadhus Shalihin I

Dari sekelumit kisah di atas, dapat kita petik pelajaran bahwa sifat ikhlas yang hanya mengharapkan ridho Allah swt akan senantiasa mendapatkan balasan dari Allah swt. Dengan keikhlasan yang tertanam di dalam jiwa seorang muslim, niscaya Allah swt akan senantiasa memberikan kemudahan atau jalan keluar bagi setiap kesulitan dan berbagai macam cobaan yang menimpanya.

Wallahua’lam

Jumat, Mei 08, 2009

Saat Ruh Dicabut


Pernahkah kita mencoba berpikir mengenai bagaimanakah nanti para malaikat akan mencabut ruh kita dari dalam jasad ini? Atau, pernahkah kita merenung sejenak mengenai apa yang akan terjadi setelah malaikat melakukan tugasnya mencabut nyawa kita, akan dikemanakankah ruh kita? Bagaimanakah nasib ruh kita kelak?

Tentunya, kita semua sepakat bahwa tidak ada satupun makhluk hidup bergerak yang akan memperoleh keabadian di dunia yang fana ini. Untuk itu, aneh sekali jika setelah mengetahui dan menyetujui hal tersebut, namun kita tidak pernah berpikir dan berjuang untuk memperoleh kebaikan pada hari setelah kita dimusnahkan dari dunia ini.

Manisnya kehidupandi dunia yang hanya sementara telah membuat kita lupa untuk berpikir akan hari esok. Glamor duniawi menyilaukan mata hingga menjadi buta, dan menutup telinga hingga menjadi tuli. Banyak manusia tenggelam dalam kenikmatan sesaat yang akan berujung pada azab.

Sesungguhnya, nasib manusia di dunia maupun di akhirat itu hanya terdiri atas dua macam, yaitu bahagia atau sengsara, surga atau neraka. Dan Allah swt swt telah memberikan jalan kepada seluruh umatnya untuk memilih diantara kedua pilihan tersebut. Tapi, berapa banyakkah manusia yang berharap memperoleh kebahagiaan namun hanya memperoleh kebahagiaan sesaat saja. Justru kebagaiaan sesaat yang dibanggakaanya itulah yang kelak akan menjerumsukannya ke neraka Jahanam.

Berikut ini adalah sebuah hadits yang kami kutip dari riwayat Imam Ahmad dan Abu Dawud, yang mengisahkan tentang keadaan ruh ketika malaikat pencabut nyawa telah melakukan tugasnya. Semoga melalui sekelumit kutipan hadits ini dapat membukakan hati dan pikiran kita untuk senantiasa mengingat kepada Allah swt swt, mengingat sebuah masa dimana kita sudah tidak memiliki daya dan upaya setitikpun, mengingat sebuah masa yang akan membeberkan seluruh aib kita tanpa sisa, dan kemudian menutup mata kita dari silaunya dunia. Amin.

Imam Ahmad dalam Musnad-nya, demikian juga Ibnu Hibban, Abu ‘Awanah Al-Isfirayaini dalam kitab Shahih keduanya, meriwayatkan dari Al-Manhal dari Zadan bin Al-Bara’ bin ‘Azib bahwa ia berkata, “Kami pernah pergi bersama Rasulullah saw untuk mengantar jenazah. Beliau duduk di atas kuburan dan kami duduk di sebelahnya. Kami diam dan tenang laksana di atas kepala kami terdapat seekor burung. Sambil menguburkan jenazah tersebut, Beliau berkata, “Aku berlindung diri kepada Allah swt dari siksa kubur.” Beliau mengucapkannya tiga kali.

Kemudian Rasulullah saw pun bersabda, “Sesungguhnya orang yang beriman jika akan pindah ke alam akhirat dan meninggalkan dunia, maka para malaikat itu turun kepadanya. Wajah mereka seperti matahari dan setiap dari mereka membawa wewangian dari surga dan kain kafan. Mereka duduk di dekat orang yang beriman sebatas pandangan kemudian malaikat pencabut nyawa duduk di dekat kepalanya dan berkata, “Wahai jiwa yang baik, keluarlah menuju ampunan dan keridhaan Allah swt.”

Rasulullah saw kembali bersabda, “Ruh orang beriman pun keluar dari jasadnya seperti halnya air keluar dari mulut teko. Malaikat pencabut nyawa segera mengambilnya. Ketika ruh orang itu telah berada dalam genggamannya, para malaikat yang lain tidak membiarkan ruh orang beriman itu berada di tangan malaikat pencabut nyawa sekejap mata hingga kemudian mereka mengambilnya dan menaruhnya di atas kain kafan surga dan wewangian tersebut. Dari ruh orang beriman, keluarlah wewangian paling harum yang pernah ada di bumi.”

Lalu Rasulullah saw berkata, “Kemudian para malaikat naik membawa ruh orang beriman dan setiap kali mereka melewati para malaikat, maka mereka bertanya, “Ruh siapa yang harum ini?” Mereka menjawab, “Ini adalah si fulan bin fulan,” seraya menyebutkan nama terbaik yang pernah menjadi sebutannya ketika di dunia hingga kemudian mereka berhenti di langit kedua. Mereka minta dibukakan bagi ruh tersebut kemudian dibukakanlah untuknya. Ruh tersebut disambut seluruh makhluk di langit kedua dan mereka mendekatkan ruh tersebut ke langit berikutnya hingga mereka membawa ruh itu tiba di langit di mana Allah swt berada. Kemudian Allah swt berfirman, “Tuliskan kitab hamba-Ku ini dalam ‘Illiyyin, lalu kembalikanlah ia ke bumi. Sebab, dari bumi itulah Kami menciptakan mereka, ke dalamnya Kami kembalikan mereka, dan darinya pula Kami keluarkan mereka sekali lagi.”

Kemudian Rasulullah saw bersabda, “Dan sesungguhnya orang kafir itu jika meninggal dunia menuju ke akhirat, maka para malaikat turun kepadanya dari langit dengan wajah yang hitam dan membawa kain kafan kasar, lalu duduk di dekatnya sebatas pandangan."

Malaikat pencabut nyawa datang kepadanya dan duduk di dekat kepalanya lantas berkata, “Wahai ruh yang kotor, keluarlah menuju kemurkaan dan kemarahan dari Allah swt!” Lalu ruhnya berpisah dari jasadnya dan malaikat mencabutnya seperti mencabut besi pembakar dari wol yang basah. Selanjutnya malaikat pencabut nyawa mengambilnya dan jika sudah ia ambil, maka para malaikat yang lain tidak membiarkan ruh tersebut di tangannya sekejap mata hingga kemudian mereka meletakkannya di dalam kain kasar tersebut. Dari padanya keluar bau paling busuk yang pernah ada di muka bumi.

Para malaikat membawanya naik dan setiap kali mereka melewati malaikat, mereka bertanya, “Ruh busuk siapa ini?” Para malaikat menjawab, “Ini adalah si fulan bin fulan,” seraya menyebutkan sejelek-jeleknya nama yang dialamatkan kepadanya ketika di dunia. Ruh itu terus dibawa naik hingga sampai ke langit dunia. Ia meminta agar pintu langit itu dibuka, namun tidak juga dibukakan untuknya.

Kemudian Beliau membacakan firman Allah swt swt, “Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum.” (Al A’raf: 40).
Allah swt swt kemudian berkata, “Tuliskan kitabnya di Sijjin, di bumi yang terbawah!” Lalu ruh tersebut dilemparkan begitu saja. Selanjutnya Rasulullah membacakan firman Allah swt, “Barangsiapa menyekutukan sesuatu dengan Allah swt, maka ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (Al Hajj: 31) (Diriwayatkan oleh Ahmad (VI/287 dan 295) dan Abu Dawud (4753))

Demikian disampaikan oleh Rasulullah saw dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud. Semoga pesan yang terkandung dalam riwayat di atas dapat menjadikan kita sebagai umat yang senantiasa mempersiapkan diri untuk menghadapi satu peristiwa yang Rasululullah saw pun tidak dapat menyembunyikan rasa sakitnya, yaitu peristiwa pencabutan ruh. Amin.

Wallahua’lam bishshowab

Kamis, Mei 07, 2009

Mensyukuri Kekurangan


Ratusan, ribuan, jutaan, atau berapakah jumlah manusia di dunia ini yang memiliki kekurangan atau kelebihan? Tidak ada yang tahu pasti. Yang jelas, dan yang sama-sama di setujui oleh semua pihak adalah NO BODY’S PERFECT. Artinya, setiap orang pasti memiliki kekurangan, dari sisi apapun, baik dari sisi yang sama maupun yang berbeda. Kekurangan dan kelebihan dalam diri setiap manusia adalah dua hal yang saling mengikat satu sama lain. Yang menjadi permasalahan adalah “mampukah kita untuk senantiasa mensyukuri kedua hal tersebut?”.

Mensyukuri sebuah kelebihan adalah satu hal yang biasa, meskipun kadang agak sulit dan masih banyak orang yang tidak mampu untuk mensyukuri hal tersebut. Sedangkan mensyukuri sebuah kekurangan, bagi kebanyakan orang adalah mustahil, meskipun sebenarnya banyak sekali kekurangan-kekurangan dalam diri manusia yang akan membantu dirinya agar menjadi seorang hamba yang lebih terjaga, baik di dunia maupun di akhirat.

Banyak orang yang malu, minder, sedih, mengasingkan diri, nggak PD, selalu merasa was-was, selalu dihantui kekecewaan, dan gelisah yang berlarut-larut. Akhirnya, merekapun jadi membenci kekurangan mereka, dan hilanglah rasa syukur di dalam hati mereka.

Ada sebuah cara yang jika dilakukan, insyaAllah akan membuat seseorang mampu untuk mensyukuri sebuah kekurangan. Cara ini biasa disebut dengan “Positive thingking”. Istilah Positive thingking ini tentunya sudah tidak asing lagi di telinga kita. Meskipun demikian, ternyata sulit sekali untuk melaksanakannya. Sebelum kita memperoleh si Positive thingking tersebut. Dan setelah kita memiliki Positive thingking tersebut, maka insya Allah dengan sendirinya rasa syukur itu akan tumbuh di dalam hati kita. Kita akan mengetahui bahwa di balik kekurangan tersebut ada sesuatu yang patut disyukuri. ini, ada satu hal yang terlebih dahulu harus kita yakini. Hal tersebut adalah keyakinan bahwa Allah swt menciptakan segala sesuatu pasti dengan tidak sia-sia. Artinya, Allah swt menciptakan kekurangan dalam diri kita juga pasti ada tujuannya. Jika kita mengetahui apakah tujuan itu, jika kita mengetahui kenapa kekurangan itu ada pada diri kita, jika kita telah menemukan jawabannya, maka kita akan menemukan jalan untuk menuju Positive thingking tersebut. Dan setelah kita memiliki Positive thingking tersebut, maka insya Allah dengan sendirinya rasa syukur itu akan tumbuh di dalam hati kita. Kita akan mengetahui bahwa di balik kekurangan tersebut ada sesuatu yang patut disyukuri.

“Allah swt menciptakan segala sesuatu dengan tidak sia-sia”. Mungkin kita akan bertanya-tanya, lalu apakah tujuan Allah swt sehingga menciptakan kebutaan pada mata seseorang, kenapa Allah swt menciptakan sebuah kebisuan, kenapa Allah swt menciptakan ketulian pada telinga seseorang, dan mengapa Allah swt menciptakan tubuh seseorang dengan kurus (tidak gemuk, kekar, atau berbentuk), kenapa, kenapa, dan kenapa? Mungkin kata “kenapa” tidak akan dapat terhitung jika terus dijabarkan. Untuk lebih mudahnya, kita ambil saja ke-empat contoh yang telah disebutkan diatas yaitu tentang kenapa seseorang dibuat menjadi buta, bisu, tuli, atau kurus.

“Buta”, “Bisu”, “Tuli”, “Kurus”, apa yang yang patut disyukuri dari semua itu? Jika kita renungi lebih dalam lagi, ternyata di dalam ke-empat kekurangan tersebut (dan juga kekurangan-kekurangan yang lain) terdapat sebuah rahasia besar yang patut kita syukuri. Sebenarnya, kekurangan-kekurangan tersebut memiliki peranan yang sangat besar dalam menjaga diri kita. Coba kita perhatikan, berapa banyak di dunia ini orang-orang yang tertipu dan terjerumus oleh mata, mulut/lidah, dan telinganya secara sadar maupun tidak sadar. Berapa banyak orang yang menggunakan mata , lidah, dan telinganya untuk berbuat maksiat kepada Allah swt? Berapa banyak orang yang menggunakan mata mereka untuk melihat hal-hal yang seharusnya tidak mereka lihat? Berapa banyak orang yang menggunakan lidah mereka untuk bergunjing, menggosip, mengumbar fitnah dan aib orang lain, membicarakan sesuatu yang mereka tidak mengerti ilmunya, dan membicarakan segudang hal-hal lain yang tidak selayaknya mereka bicarakan. Berapa banyak orang yang menggunakan telinga mereka untuk menguping dan mendengarkan hal-hal yang bukan hak mereka. Tentunya mata, lidah, dan telinga itu kelak akan dimintai pertanggung jawaban.

Dari pernyataan di atas, tentunya dapat ditarik kesimpulan sederhana bahwa dengan menjadi buta, bisu, atau tuli, berarti Allah swt telah mengurangi satu lubang maksiat dari dalam diri kita. Orang yang buta akan dikurangi dosa matanya dalam melihat maksiat. Orang yang bisu akan dikurangi dosa lidahnya dalam membicarakan maksiat. Orang yang tuli akan dikurangi dosa telinganya dalam mendengarkan hal-hal yang bukan haknya. Apabila kita benar-benar memahami akan hal-hal tersebut, maka insaya Allah swt kita akan mampu untuk selalu mensyukuri kekurangan yang ada dalam diri kita.

Dan bagi orang-orang yang kurus, andapun tidak perlu merasa sedih dan nggak PD secara berlebihan. Karena sebenarnya, kekurusan yang kita miliki juga dapat membuat diri kita menjadi lebih terjaga dan bernilai, jika kita mampu melihatnya dengan Positive thingking. Mungkin saja Allah ingin menjaga harga diri dan kehormatan kita dengan kekurusan tersebut. Tentunya, sebagian besar orang-orang yang kurus dan masih berakal sehat, akan berfikir 1000 kali ketika hendak membuka baju di teras rumahnya. Lain halnya dengan orang-orang yang berbadan gemuk atau kekar. Jangankan diteras rumah, dijalan umum atau dipasarpun banyak sekali yang tidak akan merasa malu untuk membuka pakaiannya. Karena mereka merasa bahwa bentuk tubuh mereka bagus. Yang patut kita syukuri sebagai orang-orang yang kurus adalah, dengan rasa malu itulah Allah ingin menjaga diri kita. Rasulullah saw bersabda:

“Setiap agama memiliki ciri khas, dan ciri khas islam adalah malu.” (HR. Baihaqi).

“Iman punya enampuluh tujuh cabang, dan malu adalah salah satu cabangnya.” (HR. Bukhori).

Sesungguhnya tidak ada sesuatupun di muka bumi ini yang diciptakan, melainkan hanya sebagai sebuah ujian. Kelebihan dan kebahagiaan, kekurangan dan kesedihan, adalah sebuah ujian yang ditujukan kepada rasa syukur dan kesabaran seseorang. Mampukah kita untuk senantiasa mensyukurinya, dan mampukah kita untuk senantiasa bersabar atasnya.

Wallahua’lam bishshowab.

Tawadhu


Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat (Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai daripadanya.” (QS. Al-A’raaf:146)


Tawadhu’ adalah sifat merendahkan diri, baik di hadapan Allah swt maupun terhadap setiap makhluk. Tawadhu’ adalah lawan kata dari takabur (sombong). Orang yang bertawadhu’ berarti orang yang selalu rela terhadap kedudukan yang lebih rendah, mau menerima kebenaran, serta rendah hati terhadap siapapun.

Allah swt sangat menyukai orang-orang yang tawadhu’ dan akan meridhoi mereka. Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang bersikap tawadhu’ karena mencari ridho Allah maka Allah akan meninggikan derajatnya. Ia menganggap dirinya tiada berharga, namun dalam pandangan orang lain ia sangat terhormat. Barang siapa yang menyombongkan diri maka Allah akan menghinakannya.Ia menganggap dirinya terhormat, padahal dalam pandangan orang lain ia sangat hina, bahkan lebih hina daripada anjing dan babi.” (HR. Al Baihaqi)

Rasulullah saw juga telah menjadi contoh teladan bagi pengikutnya untuk selalu memiliki sifat tawadhu. Sifat tawadhu’ Rasulullah saw telah dimiliki sejak beliau masih dan sebelum masa kenabian beliau. Sifat tawadhu membuat Rasulullah saw orang yang berbudi luhur dan berakhlak mulia.

Sifat tawadhu’ Rasulullah saw kemudian telah diikuti pula oleh para sahabatnya. Maka, tak salah bila kita sebagai muslim juga harus memiliki sifat tersebut. Terutama di dunia fana ini, semakin banyak manusia yang terjebak dalam sifat riya dan sombong. Maka tawadhu’ lah yang kita butuhkan. Rasulullah saw bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan, walaupun seberat biji sawi.” (HR. Muslim).

Sifat tawadhu’ seseorang dapat dilihat dari perilakunya sehari-hari. Bila ia sedang berdiskusi dengan orang lain, ia akan dapat menerima semua pendapat, saran, maupun kritik dengan lapang dada serta berterima kasih. Jika ia berhasil mengeluarkan pendapat yang lebih hebat dari rekannya, ia tidak akan sombong atau berbesar hati. Dengan kata lain, ia tidak suka menonjolkan diri di tengah-tengah mereka.

Mukmin yang tawadhu selalu memakai pakaian yang sederhana. Ia tidak riya’ terhadap apa yang dimilikinya dan apa yang ada pada dirinya, meskipun ia orang yang berkecukupan. Selain itu, ia juga tidak segan-segan bergaul dan memenuhi undangan orang miskin atau orang yang lebih rendah statusnya dari dirinya.

Seseorang yang tawadhu’ adalah orang yang telah mengikis habis sifat sombong yang ada dalam dirinya. Semoga kita selalu bisa istiqomah dalam menghilangkan kesombongan dan memiliki tawadhu’ yang sempurna. Amin.

Rabu, Mei 06, 2009

Kisah Sahabat Rasulullah saw


Jika kita melmbaca kisah-kisah akan tindakan dan perbuatan para sahabt Rasulullah saw, maka kita akan menemukan banyak sekali perbuatan mereka yang mencerminkan ketaatan para sahabat kepada Allah SWT dan RasulNya. Bahkan, mereka tidak berpikir dua kali untuk mentaati perintah tersebut, meskipun harus mengorbankan harta, atau bahkan nyawanya sekalipun. Bandingkan dengan kita sekarang ini. Kita sering memikirkan untung ruginya saat harus mengeluarkan sedikit harta kita di jalan Allah SWT.

Beberapa kisah berikut ini dapat kita jadikan renungan dan teladan dalam membelanjakan harta kita di jalan Allah SWT.

Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an:

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS Al Baqarah: 245)

Suatu ketika Rasulullah saw. membacakan ayat itu kepada para sahabat. Tiba-tiba Abu Dahdah r.a. berdiri. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, benarkah Allah meminta pinjaman kepada kita?” Rasulullah saw. menjawab, “Ya, benar.” Abu Dahdah kembali berkata, “Wahai Rasulullah, apakah Dia akan mengembalikannya kepadaku dengan pengembalian yang berlipat-lipat?” Rasulullah saw. menjawab, “Ya, benar.”

“Wahai Rasulullah, ulurkanlah kedua tangan Anda,” pinta Abu Dahdah r.a. tiba-tiba. Rasulullah saw. balik bertanya, “Untuk apa?” Lalu Abu Dahdah menjelaskan, “Aku memiliki kebun, dan tidak ada seorang pn yang memiliki kebun yang menyamai kebunku. Kebun itu akan aku pinjamkan kepada Allah.” “Engkau pasti akan mendapatkan tujuh ratus lipat kebun yang serupa, wahai Abu Dahdah,” kata Rasulullah saw.

Abu Dahdah mengucapkan takbir, “Allahu Akbar, Allahu Akbar!” Lantas ia segera pergi ke kebunnya. Ia mendapati istri dan anaknya sedang berada di dalam kebun itu. Saat itu anaknya sedang memegang sebutir kurma yang sedang dimakannya.

“Wahai Ummu Dahdah, wahai Ummu Dahdah! Keluarlah dari kebun itu. Cepat. Karena kita telah meminjamkan kebun itu kepada Allah!” teriak Abu Dahdah.

Istrinya paham betul maksud perkataan suaminya. Maklum, ia seorang muslimah yang dididik langsung oleh Rasulullah saw. Segera ia beranjak dari posisinya. Ia keluarkan kurma yang ada di dalam mulut anaknya. “Muntahkan, muntahkan. Karena kebun ini sudah menjadi milik Allah swt. Ladang ini sudah menjadi milik Allah swt.,” ujarnya kepada sang anak.

Subhanallah! Begitulah Ummu Dahdah, seorang wanita yang begitu yakin rezeki datang dari Allah swt. dan bersuamikan seorang sahabat Nabi yang begitu yakin akan janji Allah swt. Kalau saja para suami zaman ini punya istri seperti Ummu Dahdah, pasti mereka akan mudah saja berinfak tanpa berpikir dua kali. Kalau saja para istri zaman sekarang punya suami model Abu Dahdah, pasti mereka akan mendapatkan kemuliaan dari Allah SWT.

Suatu hari Amiril Mukminin Umar bin Khaththab r.a. dikirimi harta yang banyak. Beliau memanggil salah seorang pembatu yang berada di dekatnya. “Ambillah harta ini dan pergilah ke rumah Abu Ubaidah bin Jarrah, lalu berikan uang tersebut. Setelah itu berhentilah sesaat di rumahnya untuk melihat apa yang ia lakukan dengan harta tersebut,” begitu perintah Umar kepadanya.

Rupanya Umar ingin melihat bagaimana Abu Ubaidah menggunakan hartanya. Ketika pembantu Umar sampai di rumah Abu Ubadah, ia berkata, “Amirul Mukminin mengirimkan harta ini untuk Anda, dan beliau juga berpesan kepada Anda, ‘Silakan pergunakan harta ini untuk memenuhi kebutuhan hidup apa saja yang Anda kehendaki’.”

Abu Ubaidah berkata, “Semoga Allah mengaruniainya keselamatan dan kasih sayang. Semoga Allah membalasnya dengan pahala yang berlipat.” Kemudian ia berdiri dan memanggil hamba sahaya wanitanya. “Kemarilah. Bantu aku membagi-bagikan harta ini!.” Lalu mereka mulai membagi-bagikan harta pemberian Umar itu kepada para fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan dari kaum muslimin, sampai seluruh harta ini habis diinfakkan.
Pembantu Umar pun kembali pulang. Umar pun memberinya uang sebesar empat ratus dirham seraya berkata, “Berikan harta ini kepada Muadz bin Jabal!” Umar ingin melihat apa yang dilakukan Muadz dengan harta itu. Maka, berangkatlah si pembantu menuju rumah Muadz bin Jabal dan berhenti sesaat di rumahnya untuk melihat apa yang dilakukan Muadz terhadap harta tersebut.

Muadz memanggil hamba sahayanya. “Kemarilah, bantu aku membagi-bagikan harta ini!” Lalu Muadz pun membagi-bagikan hartanya kepada fakir miskin dan mereka yang membutuhkan dari kalangan kaum muslimin hingga harta itu habis sama sekali di bagi-bagikan. Ketika itu istri Muadz melihat dari dalam rumah, lalu berkata, “Demi Allah, aku juga miskin.” Muadz berkata, “Ambillah dua dirham saja.”

Pembantu Umar pun pulang. Untuk ketiga kalinya Umar memberi empat ribu dirham, lalu berkata, “Pergilah ke tempat Saad bin Abi Waqqash!” Ternyata Saad pun melakukan apa yang dilakukan oleh dua sahabat sebelumnya. Pulanglah sang pembantu kepada Umar. Kemudian Umar menangis dan berkata, “Alhamdulillah, segala puji syukur bagi Allah.”

Begitulah para sahabat ketika mendapat harta. Tidak sampai sehari harta itu diinfakkan dengan begitu ringannya.

Suatu hari Thalhah bin Ubaidillah r.a. pulang ke rumah dengan membawa uang sebanyak seratus ribu dirham. Istrinya mendapati raut wajah Thalhah begitu bersedih.

Sang istri bertanya, “Apa yang terjadi padamu, wahai suamiku?” Thalhah menjawab, “Harta yang banyak ini, aku takut jika bertemu dengan Allah, lalu aku ditanya tentang dirham ini satu per satu.”

Istrinya lalu berkata, “Ini masalah yang sangat mudah. Mari kita bagi-bagikan harta ini. Bawalah harta ini dan bagikan kepada para fakir miskin yang ada di Kota Madinah.”

Thalhah pun bersama istrinya meletakkan harta itu di sebuah wadah, lalu membagi-bagikan kepada para fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Setelah itu ia kembali ke rumah dan berkata, “Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menjadikan diriku bertemu dengan-Nya sedangkan aku dalam keadaan bersih dan suci.”

Subhanallah……….

Begitu mudahnya mereka melepaskan harta yang dimilikinya untuk dibelanjakan di jalan Allah SWT. Tidak sedikitpun para sahabat ini mementingkan kehidupan dunia mereka. Justru sebaliknya, mereka seperti berlomba-lomba menyedekahkan hartanya untuk mencari kehidupan yang lebih baik di akhirat kelak.

Mampu kah (atau lebih tepatnya MAUKAH) kita meneladani apa yang dilakukan oleh para sahabat Rasulullah saw diatas? Semoga saja…………

Wallahu a’lam

www.syahadat.com

Minggu, Mei 03, 2009

Pertolongan Allah swt


Sebagai Muslim yang beriman, kita yakin bahwa pertolongan Allah swt akan selalu datang menyertai kita. Sesulit apapun masalah yang kita hadapi, kita tak boleh berpaling dari-Nya. Firman Allah swt dalam QS. Ath-Thalaq:2-3. "Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya baginya jalan keluar dan diberinya rezeki dari jalan yang tiada terduga. Barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”

Namun, manusia selau dipenuhi oleh hawa nafsu. Ketidakcukupan dalam hidupnya terkadang membuat manusia melakukan segala cara untuk memenuhi kebutuhannya. Sehingga mereka terjerumus dalam syirik dan kekufuran.

Allah swt akan selalu mencurahkan kasih sayang dan pertolongan kepada orang-orang yang bertakwa kepada-Nya. Pertolongan Allah swt itu datang tanpa kita kira-kira, diminta atau ataupun tidak. Terlebih dalam menegakkan agama-Nya, Allah swt akan mempermudah mereka. Allah swt berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad:7).

Allah swt Maha tahu segala-galanya. Sedangkan kita tak akan pernah tau apa yang akan terjadi esok hari. Usaha-usaha yang kita lakukan dengan mengandalkan otak dan kemampuan belaka amatlah terbatas. Namun jika Alah swt berkehandak menolong kita, maka insya Allah tidak akan terhalang karunia dan pertolongan-Nya.

Mengadulah hanya pada Allah swt. Hilangkan lah ketakutan dan kecemasan dalam hidup karena Allah swt akan selalu menolong hamba-Nya. Biarlah Allah swt yang mengatur segalanya bagi kita. Dan biarlah kita menjadi bagian dari rencana dan strategi-Nya. Wallahu a’alam.

Jumat, Mei 01, 2009

ISTIQOMAH


Istiqomah adalah sebuah usaha maksimal yang didapat dilakukan oleh manusia untuk senantiasa berada di jalan Allah swt. Sifat istiqomah biasanya dimiliki oleh orang-orang yang benar-benar beriman dan bertakwa kepada Allah swt. Dengan keistiqomahan itu, muslim yang beriman insya Allah akan dapat meraih segala kebajikan.

Dalam suatu hadits yang menceritakan, sahabat Abdullah al-Tsaqafi meminta nasihat kepada Nabi Muhammad saw agar dengan nasihat itu, ia tidak perlu bertanya-tanya lagi soal agama kepada orang lain. Lalu, Rasulullah saw bersabda, ''Qul Amantu Billah Tsumma Istaqim'' (Katakanlah, aku beriman kepada Allah, dan lalu bersikaplah istiqamah!). (H.R. Muslim)

Hadtis tersebut mengajarkan kita untuk senantiasa beriman kepada Allah swt serta menjalani semuaperintah-Nya. Orang yang tidak memiliki sifat istiqomah sangatlah merugi karena akan sia-sia semua usaha dan perjuangannya.

Setiap muslim yang beriman tentunya mengharapkan untuk selalu dapat beristiqomah, yakni sikap konsisten dalam beragama tanpa mengharapkan sesuatu yang lebih kecuali hanyalah ridho Allah swt. Sifat Istiqomah yang dimiliki orang-orang beriman juga dapat melapangkan jalan baginya menuju rahmat Allah swt.

Ciri-ciri orang yang memiliki sifat istiqomah antara lain:

  • Konsisten dalam memgang teguh aqidah tauhid
  • Konsisten dalam menjalankan syariat agama, baik berupa perintah maupun larangan
  • Konsisten dalam bekerja dan berkarya, dengan tulus dan ikhlas karena Allah swt.
  • Konsisten dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan

Allah swt menjanjikan balasan yang besar kepada orang-orang yang istiqomah. “Sesunguhnya orang-orang yang mengatakan: "Rabb kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqomah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-Ahqaf:13-14). Semoga kita bisa istiqamah dalam segala hal. Amin.

Kamis, April 30, 2009

Penyakit Hati dan Penangkalnya


Setiap manusia tentu memiliki hati. Hati inilah yang mempengaruhi tabiat dan sifat seseorang. Apabila hati ini baik, maka manusia tersebut akan memiliki sifat yang terpuji. Namun jika hati yang dimiliki seorang manusia telah penuh dengan niat jahat, dapat dipastikan bahwa tingkah laku orang tersebut tidak akan jauh dari tindakan yang merugikan orang lain. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Muhammad saw:

“Ketahuilah, sesungguhnya pada setiap jasad ada sekerat daging, apabila dia baik maka baik seluruh anggota jasad, apabila dia jelek maka jelek semua anggota jasad, ketahuilah dialah hati.” (HR. Bukhori)

Perubahan sifat yang ada dalam hati ini terjadi dengan sangat cepat. Semua itu terjadi semata karena kekuasaan yang dimilii Allah SWT. Dia-lah yang membolak-balikkan hati manusia sesuai dengan kehendak-Nya. Perhatikan sabda Rasulullah saw berikut:

“Dinamakan hati (al-qolbu) karena cepatnya berubah.”(HR. Ahmad)

“Perumpamaan hati adalah seperti sebuah bulu di tanah lapang yang diubah oleh hembusan angin dalam keadaan terbalik.” (HR. Ibnu Abi Ashim)

“Sesungguhnya hati-hati anak Adam berada di antara dua jari-jari Alloh layaknya satu hati, Dia mengubah menurut kehendak-Nya.” (HR. Muslim)

“Ya Alloh, Dzat yang membolak-balikkan hati, condongkanlah hati kami untuk selalu taat kepada-Mu.” (HR. Muslim)

Meskipun demikian, kita harus terus berupaya untuk menjaga hati kita agar tidak terkena penyakit hati, yang menyebabkab kita tersesat dari jalan yang diridhoi Allah SWT. Begitu banyak penyakit yang dapat hinggap dalam hati kita, baik kita sadari maupun tidak.

Penyakit-penyakit hati tersebut dapat diketahui dengan melihat perilaku yang ditampilkan oleh seseorang dalam kesehariannya. Perilaku yang mencerminkan rusak dan sakitnya hati seseorang diantaranya adalah:

1. Melakukan kedurhakaan dan dosa

Di antara manusia ada yang melakukan kedurhakaan terus-menerus dalam satu jenis perbuatan. Ada pula yang melakukan dalam beberapa jenis bahkan semuanya dilakukan dengan terang-terangan, padahal Rosululloh bersabda:

“Setiap umatku akan terampuni kecuali mereka yang melakukan kedurhakaan secara terang- terangan.” (HR. Bukhori)

2. Merasakan kekerasan dan kekakuan hati

Keras dan kakunya hati seseorang membuat orang itu tidak memiliki sensitifitas terhadap masalah-masalah yang menimpa saudaranya sesame muslim. Hal ini karena ia tidak akan mampu dipengaruhi oleh apapun juga, dan hanya akan bertumpu pada keinginan pribadinya.

3. Tidak tekun beribadah

Ketekunan dalam beribadah merupakan sesuatu hal yang wajib kita laksanakan. Dalam beribadah kita harus benar-benar memperhatikan dengan seksama setiap gerakan dan ucapan/bacaan serta doa. Sedangkan orang yang hatinya mulai diliputi oleh “penyakit” tidak akan mampu tekun dan memperhatikan apa yang dilakukannya dalam beriadah.

4. Malas dalam ketaatan dan ibadah

Kalaupun ia beribadah, maka ibadah tersebut hanyalah sekedar rutinitas belaka, dan “kosong”. Masuk dalam kategori ini ialah perbuatan–perbuatan yang tidak dilakukan dengan mempedulikan nilai dari perbuatan tersebut atau meremehkan waktu-waktu yang tepat untuk melakukannya. Misalnya, melakukan sholat-sholat di akhir waktu, atau menunda-nunda haji padahal sudah ada kemampuan untuk melaksanakan.

5. Perasaan gelisah dan resah karena masalah yang dihadapi

6. Tidak tersentuh kandungan ayat-ayat suci Al Qur’an

7. Lalai dalam dzikir dan doa

8. Lalai dalam amar ma’ruf nahi munkar

Bara ghiroh dalam hati telah padam, tidak menyuruh kepada yang ma’ruf, tidak pula mencegah dari yang mungkar. Pada puncaknya, dia tidak mengetahui yang ma’ruf dan tidak mengetahui yang mungkar. Segala urusan dianggap sama

9. Gila kehormatan dan popularitas

Termasuk di dalamnya, gila terhadap kedudukan ingin tampil sebagai pemimpin yang menonjol dan tidak dibarengi dengan kemampuan yang semestinya.

“Sesunguhnya kamu sekalian akan berhasrat mendapatkan kepemiminan dan hal ini akan menjadi penyesalan pada hari kiamat.” (HR. Bukhori)

10. Bakhil dan kikir atas hartanya

Allah SWT memuji orang-orang Anshor dengan firman-Nya:

"… dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. al-Hasyr [59]: 9)


Rosulullah saw bahkan bersabda :

“Tidaklah berkumpul pada hati seorang hamba selama-lamanya sifat kikir dan keimanan.” (HR. Nasai)

11. Mengakui apa-apa yang tidak dilakukannya

Padahal penyakit ini yang menjadikan binasanya umat terdahulu. Alloh berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman, mengapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Alloh bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (QS. ash-Shof : 2–3)

12. Bersenang-senang diatas penderitaan umat muslim

13. Hanya pandai menilai kadar dosa yang dilakukan dan tidak melihat pada siapa dosa itu dilakukannya

14. Tidak peduli pada penderitaan sesama muslim

15. Mudah memutuskan tali silaturahmi/persaudaraan

16. Senang berbantah-bantahan yang mneyebabkan hatinya keras dan kaku

17. Sibuk dalam urusan dunia semata

18. Suka berlebih-lebihan

Penyembuhan

Perilaku tersebut diatas dapat dijadikan indikator awal akan adanya penyakit pada hati seseorang. Meskipun demikian, kita dapat menyembuhkan hati yang sakit tersebut dengan beberapa cara. Hal ini untuk mempertahankan keimanan yang ada dalam hati kita.

Rosulullah saw menggambarkan dalam salah satu sabda Beliau bahwa keimanan seorang hamba diibaratkan sebagai pakaian yang dibutuhkan untuk diperbaharui setiap saat. Beliau saw juga menggambarkan keimanan ibarat menatap bulan, terkadang bercahaya terkadang gelap, manakala bulan tersebut tertutup oleh awan maka hilanglah sinar dari rembulan tersebut, ketika gumpalan-gumpalan awan menghilang maka nampak kembali cahaya bulan tersebut.

Juga sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw :

“Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran hendaklah dia mengubah dengan tangannya, jika dia tidak mampu maka dengan lisannya, jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan yang demikian adalah selemah-lemah iman.” (HR. Bukhari)

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan seorang muslim sebagai upaya penyembuhan penyakit hati yang dideritanya:

1. Membaca dan menyimak Al Qur’an

Allah SWT telah memastikan bahwa al-Qur’an adalah penawar dari penyakit, penerang dan cahaya bagi hamba Allah yang dikehendaki-Nya. Firman Allah SWT :

"Dan Kami turunkan dari al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman…." (QS. al-Isra’ : 82)

2. Merasakan keagungan Allah SWT

Banyak dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang mengungkap tentang keagungan Alloh. Jika seorang muslim memperhatikan nash-nash tersebut, niscaya akan bergetar hatinya dan jiwanya akan tunduk kepada Dzat yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui sebagaimana firman Allah :

"Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." (QS. al-An’am: 59)

3. Mencari dan mempelajari ilmu agama

Yaitu ilmu yang bisa menghasilkan rasa takut kepada Allah SWT dan menambah nilai keimanannya. Tidak akan sama keadaan orang yang mengetahui dan orang yang tidak mengetahui.

4. Banyak berdzikir

Dengan berdzikir kepada Allah SWT keimanan bertambah, rohmat Allah datang, hati tenteram, para malaikat datang mengelilingi mereka, dosa-dosa terampuni. Rosulullah saw bersabda:

“Demi Dzat yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya, andaikata kamu tetap seperti keadaanmu di sisiku dan di dalam berdzikir, tentu para malaikat akan menyalami kamu di atas tempat tidurmu dan tatkala dalam perjalanan.” (HR. Muslim)

5. Memperbanyak amal sholeh

Banyak hal yang dapat digunakan sebagai lading amal sholeh bagi kita. Sedangkan bentuk dan cara memperbanyak amal sholeh diantaranya adalah:

• Sesegera mungkin melaksanakan amal sholih

• Melaksanakan amal sholih secara terus-menerus

• Tidak gampang bosan dan capai dalam melaksanakannya

• Mengulang beberapa amal sholih yang terlupakan

• Senantiasa berharap apa yang dilakukannya diterima oleh Allah SWT

6. Rajin melakukan ibadah

Di antara rahmat Allah SWT ialah dengan diberikan-Nya beberapa macam peribadatan, sebagiannya berbentuk fisik seperti sholat, sebagiannya berbentuk materi seperti zakat, sebagiannya berbentuk lisan seperti dzikir dan do’a. Bahkan satu jenis ibadah bisa dibagi kepada wajib, sunnah, dan anjuran. Yang wajib pun terkadang terbagi kepada beberapa bagian. Berbagai jenis ibadah ini memungkinkan untuk dijadikan sebagai penyembuh dari penyakit hati atau lemahnya keimanan.

7. Takut meninggal dalam keadaan su’us khotimah

8. Banyak mengingat mati

Rosulullah saw bersabda:

“Perbanyaklah mengingat penebas segala kelezatan, yakni kematian.” (HR. Tirmidzi)

Di antara cara yang efektif untuk mengingatkan seseorang terhadap kematian ialah dengan berziarah kubur, mengunjungi orang sakit, mengiringkan jenazah, dan lain-lain.

9. Selalu ingat akan tibanya hari akhir

10. Menelaah firman-firman Allah SWt yang terkait dengan peristiwa alam

11. Bermunajat dan pasrah kpeada Allah SWT

12. Tidak terlalu mengharap dunia

13. Banyak melakukan ibadah hati

14. Berdo’a kepada allah SWT agar dijaga keimanan kita

Semoga kita terhindar dari penyakit hati yang dapat melemahkan dan bahkan menghilangkan keimanan kita kepada Allah SWT. Dan semoga Allah SWT memberikan perlindungan kepada kita, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Amin………

www.syahadat.com


Allah swt Tempat Kembali Yang Pasti


“Hidup”, ibarat tidur siang yang hanya sesaat, sedangkan “mati” adalah perjalanan panjang dan tiada henti. Maka tidaklah heran jika berbagai mimpi memenuhi kehidupan ini, dan silahkan bermimpi karena kehidupan adalah alam mimpi. Ketika seseorang mengalami kematian, maka ia telah memasuki garis start dari sebuah perjalanan panjang yang abadi, penuh dengan pertanggung jawaban yang tidak dapat dibohongi.

Kehidupan ini mengenal sebuah sifat yang sudah sangat populer dalam kehidupan sehari-hari. Sebuah sifat kehidupan yang penuh dengan pembelajaran,namun banyak dilupakan, yaitu sifat “datang dan pergi”. Datang dan pergi merupakan sifat kehidupan yang terus saling mengiringi. Datang dan pergi merupakan salah satu sunnatullah yang tidak dapat diganggu gugat lagi dalam menjalani kehidupan yang fana ini. Segala sesuatu yang telah datang ke dunia, masing-masing pasti telah ditentukan masanya untuk pergi meninggalkan dunia ini kembali. Karena kehidupan ini hanyalah sandiwara sesaat, yang akan menghilang dalam sekejap manakala nyawa tinggalkan hayat. Yang tersisa hanyalah permintaan pertanggung jawaban atas segala peranan yang telah dimainkan selama menjalani sandiwara dunia. Maka, mainkanlah peranmu sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan-Nya.

Datang dan perginya segala sesuatu di dunia ini adalah takdir Allah swt yang telah tertulis di dalam kitab Lauh Mahfuzh. Yang datang, pasti akan pergi, tidak ada yang abadi. Setiap makhluk bernyawa pasti akan mati, dan setiap benda mati pasti akan hancur (musnah).

"Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan." (Qs. Al Ankabut :57)

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,” (QS. Al hadiid : 22 - 23).

Maka tidak patutlah bagi seorang muslim yang beriman, manakala kehilangan sesuatu yang ia miliki kemudian berduka tiada henti. Tidak layak bagi seorang muslim beriman untuk meratapi kepergian orang-orang yang ia kasihi. Karena semua itu adalah takdir Allah swt yang tidak boleh untuk disesali.

Allah swt telah menetapkan batasan waktu bagi segala sesuatu tanpa terkecuali, kapan sesuatu itu hidup dan kapan sesuatu itu akan mati pula, kapan sesuatu itu terbentuk dan kapan sesuatu itu akan hancur pula. Tidak ada yang abadi, semuanya pasti akan pergi.

Allah swt Maha Mengetahui, dan sebaik-baik pemberi ganti. Allah swt Sang Pemilik Ilmu yang tiada batas dan tiada tandingannya, Allah swt mengetahui segala yang terbaik dan yang buruk bagi hambanya. Maka janganlah seorang muslim tenggelam dalam duka atas musibah yang menimpanya. Karena Allah swt lebih mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Jika Allah swt telah memutuskan untuk memanggil seseorang yang kita sayangi, mungkin memang itulah yang terbaik baginya.

Dalam Shahih-nya, Imam Muslim meriwayatkan dari Ummu Salamah, bahwasanya
ia berkata, Aku mendengar Rasulullah bersabda, “Tidaklah seorang muslim yang ditimpa suatu musibah, lalu dia mengatakan apa yang diperintahkan Allah, Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali kepada-Nya. Ya Allah, berilah aku pahala karena musibah ini, dan gantikanlah untukku sesuatu yang lebih baik darinya. kecuali akan Allah akan memberikannya ganti yang lebih baik.”

Hadits di atas menyatakan bahwa barang siapa yang mendapat ujian atau musibah dari Allah swt, kemudian ia tawakal atau berserah diri kepada Allah swt, maka niscaya Allah swt akan menggantikannya dengan pemberian yang lebih baik lagi. Dan jika memang Allah swt tidak memberikan penggantinya, maka yakinlah bahwa Allah swt telah mengetahui bahwa hal tersebutlah yang terbaik bagi kita.

Sesungguhnya, manusia adalah makhluk yang lemah dan dhoif, yang tidak ada daya dan upaya kecuali atas kehendak Allah swt. Untuk itu, senantiasa memohonlah kepada Allah swt agar senantiasa diberikan kekuatan, kesabaran, dan ketabaan dalam menyikapi segala sesuatu yang pergi dan meninggalkan kita. Tidak perlu merasa lemah dan bersedih hati, karena insya Allah, Allah swt senantiasa menyertai orang-orang yang senantiasa bertakwa dan bertawakal kepada-Nya.

Setiap makhluk hidup yang bernyawa, kini tengah menunggu masing-masing gilirannya, termasuk di dalamnya adalah kita. Usia kita tengah menunggu masa berakhirnya, dan malaikat pencabut nyawa tengah berjalan semakin dekat di ubun-ubun kita. Untuk itu, marilah kita mempersiapkan diri untuk perjalanan abadi yang tiada henti, perjalanan untuk bertemu dengan Zat yang Maha Sempurna, Allah swt.

Wallahua’lam

www.syahadat.com

Sabtu, April 25, 2009

Rahmat Allah swt


Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang
Segala puji bagi Allah swt, yang telah memberikan kita nikmat hidup di dunia ini. Udara yang kita hirup, bumi dan langit yang luas, panca indera yang bermanfaat, makanan dan minuman yang lezat, harta yang melimpah, dan berbagai nikmat lainnya, merupakan rahmat Allah yang harus kita syukuri.

Kita telah diberikan kesempatan oleh Allah swt untuk hidup di dunia hingga detik ini, dengan keadaan sehat wal’afiat, mampu bekerja, dan menikmati hasil kerja keras kita, bukanlah semata karena kehebatan yang ada pada diri kita, tetapi karena rahmat Allah yang diberikan melalui tubuh kita ini. Oleh karena itu, bila kita merasa hebat lalu melupakan Pencipta kita, cepat-cepatlah memohon ampunan kepada Allah swt. Karena ampunan itu datangnya hanyalah karena rahmat Allah swt. Allah swt berfirman, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran:133)

Rahmat Allah adalah kebaikan yang datangnya dari Allah swt. Rahmat Allah tersebut merupakan wujud dari kasih sayang Allah swt terhadap makhluk-Nya. Allah swt memberikan kita berbagai kenikmatan, salah satunya yaitu nikmat islam. Umat Islam yang selalu menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya akan selalu mendapatkan rahmat Allah dan keberkahan yang tiada tara.

Untuk selalu mendapatkan rahmat Allah, seorang muslim haruslah senantiasa mengingat Allah, berdzikir dan menyebut nama Allah dengan ikhlas. Dengan mengharap ridho Allah, seorang muslim yang beriman Insya Allah akan selalu mendapatkan rahmat Allah swt. Betapa besar rahmat Allah kepada kita. Maka siapa yang mengharap mendapat rahmat Allah dan bertemu kepada Tuhan-Nya, maka hendaklah beramal soleh.

Dengan adanya rahmat Allah swt, Rasulullah saw memerintahkan kita untuk bersyukur kepada Allah swt yang telah memuliakan kita dengan rahmat-Nya dan rahmat amal soleh, sebab siapa yang mengharapkan rahmat Allah swt harus beramal mengikut petunjukNya untuk mencapai rahmat Allah swt. Allah swt berfirman: "Sesungguhnya rahmat Allah itu dekat pada orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al A’raf:56)

Berikut ini beberapa hadits mengenai rahmat Allah:

Dari Abu Hurairah ra berkata: "Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda, "Rahmat Allah terdapat dalam seratus bagian, maka ditahan pada-Nya yang sembilan puluh sembilan dan diturunkan di bumi satu bagian, maka dengan satu bagian itu masing-masing makhluk berkasih sayang sehingga kuda mengangkat kakinya karena kuatir menginjak anaknya." (HR. Muslim)

Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya Allah mempunyai seratus rahmat, diturunkan ke bumi hanya satu rahmat untuk penduduk dunia, maka mencukupi hingga habis ajal mereka, dan Allah akan mencabut rahmat itu yang satu pada hari kiamat untuk menggenapkan pada yang sembilan puluh sembilan, untuk diberikannya kepada para wali dan ahli taat kepada-Nya." (HR. Muslim)

Dari abu hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw bersabda,” Tatkala Allah menciptakan makhluk, Ia menulis pada suatu kitab, kitab itu berada di sisi-Nya di atas Arasy, bertuliskan: Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku (HR. Bukhari dan Muslim)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda: ”Tidak seorang pun di antara kalian yang akan diselamatkan oleh amal perbuatannya. Seorang lelaki bertanya: Engkau pun tidak, wahai Rasulullah? Rasulullah saw menjawab: Aku juga tidak, hanya saja Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku, akan tetapi tetaplah kalian berusaha berbuat dan berkata yang benar.” (HR. Muslim)