Sabtu, Agustus 15, 2009
Melihat Calon Istri Sebelum Khitbah
Ulama empat madzhab dan mayoritas ulama menyatakan bahwa seorang lelaki yang berkhitbah kepada seorang perempuan disunnahkan untuk melihatnya atau menemuinya sebelum melakukan khitbah secara resmi. Rasulullah saw telah mengizinkan itu dan menyarankannya dan tidak disyaratkan untuk meminta izin kepada perempuan yang bersangkutan. Landasan untuk itu adalah hadits sahih riwayat Muslim dari Abu Hurairah ra berkata: ”Aku pernah bersama Rasulullah saw lalu datanglah seorang lelaki, menceritakan bahwa ia menikahi seorang perempuan dari kaum anshar, lalu Rasulullah saw menanyakan "Sudahkan anda melihatnya?" lelaki itu menjawab "Belum". "Pergilah dan lihatlah dia" kata Rasulullah saw ,karena pada mata kaum anshar (terkadang ) ada sesuatunya".
Para Ulama sepakat bahwa melihat perempuan dengan tujuan khitbah tidak harus mendapatkan izin perempuan tersebut, bahkan diperbolehkan tanpa sepengetahuan perempuan yang bersangkutan. Bahkan diperboleh berulang-ulang untuk meyakinkan diri sebelum melangkah berkhitbah. Ini karena Rasulullah s.a.w. dalam hadist di atas memberikan izin secara mutlak dan tidak memberikan batasan. selain itu, perempuan juga kebanyakan malu kalau diberitahu bahwa dirinya akan dikhitbah oleh seseorang.
Begitu juga kalau diberitahu terkadang bisa menyebabkan kekecewaan di pihak perempuan, misalnya pihak lelaki telah melihat perempuan yang bersangkutan dan memebritahunya akan niat menikahinya, namun karena satu dan lain hal pihak lelaki membatalkan, padahal pihak perempuan sudah mengharapkan.Maka para ulama mengatakan, sebaiknya melihat calon isteri dilakukan sebelum khitbah resmi, sehingga kalau ada pembatalan tidak ada yang merasa dirugikan. Lain halnya membatalkan setelah khitbah kadang menimbulkan sesuatu yang tidak diinginkan.Persyaratan diperbolehkan melihat adalah dengan tanpa khalwat (berduaan saja) dan tanpa bersentuhan karena itu tidak diperlukan. Bagi perempuan juga diperbolehkan melihat lelaki yang mengkhitbahinya sebelum memutuskan menerima atau menolak.
Batasan yang diperbolehkan lelaki melihat perempuan yang ditaksir sebelum khitbah menurut sebagian besar ulama yaitu boleh melihat wajah dan telapak tangan. Bagi perempuan yang akan menerima khitbah disunnahkan untuk menghias dirinya agar kelihatan cantik. Imam Ahmad berkata: "Ketika seorang lelaki berkhitbah kepada seorang perempuan, maka hendaklah ia bertanya tentang kecantikannya dulu, kalau dipuji baru tanyakan tentang agamanya, sehingga kalau ia membatalkan karena alasan agama. Kalau ia menanyakan agamanya dulu, lalu kecantikannya maka ketika ia membatalkan adalah karena kecantikannya dan bukan agamanya. (Ini kurang bijak).
Sumber:pesantrenvirtual
Jumat, Agustus 14, 2009
Mencintai Allah swt
Jika seseorang mencintai sesamanya lebih tinggi derajatnya daripada cinta kepada Allah swt, maka ia sama sama saja telah berbuat zalim. Padahal Allah swt telah memberi peringatan dalam surat At-Taubah ayat 24: “Katakanlah, "Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan -Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan -Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”
Sesungguhnya ada banyak cara untuk mencintai Allah swt dan menggapai cinta-Nya. Seperti yang berikut ini:
• Mendekatkan diri kepada Allah swt (taqarub) dengan mengerjakan ibadah-ibadah sunnah setelah melakukan ibadah-ibadah fardhu. Jika orang yang beriman mencintai Allah dengan mengerjakan ibadah-ibadah fardhu dengan sempurna, maka dengan menambahkan ibadah-ibadah sunnah ia akan dapat menggapai cinta-Nya. ibadah-ibadah sunnah yang dikerjakan antara lain sholat-sholat sunnah, puasa sunnah, sedekah, dan amalan-amalan sunnah dalam Haji dan Umrah.
• Membaca Al Quran adalah cara untuk mencintai Allah, karena di dalamnya terdapat kalamullah-kalamullah yang sangat suci. Tidak hanya dibaca, tetapi juga dipahami, direnungi, dimengerti, serta diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
• Cinta kepada Allah swt berarti selalu ingat kepada-Nya. Berdzikir di dalam hati, di dalam lisan, bahkan di setiap tingkah laku. Rasulullah saw pernah bersabda: "Sesungguhnya Allah aza wajalla berfirman :"Aku bersama hambaKu,s elama ia mengingatKu dan kedua bibirnya bergerak (untuk berdzikir) kepadaKu".
• Berusaha untuk mencintai Allah swt melebihi dirinya sendiri dan orang lain, dengan berusaha lebih mengenal-Nya, mengetahui dan memahami nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya.
• Selalu bersyukut akan nikmat yang didapat. Karena hanya Allah swt lah Sang Pemberi nikmat bagi hamba-hamba-Nya. setiap nikmat yang diberikan adalah bukti kebesaran-Nya. dan beryukur kepada-Nya akan mengantarkan kepada rasa cinta yang mendalam kepada-Nya.
• Menyendiri bersama Allah ketika Dia turun. Kapankan itu? Yaitu saat sepertiga terakhir malam. Di saat itulah Allah s.w.t. turun ke dunia dan di saat itulah saat yang paling berharga bagi seorang hamba untuk mendekatkan diri kepadaNya dengan melaksanakan sholat malam agar mendapatkan cinta Allah.
• Bergaul dengan orang-orang yang mencintai Allah, maka iapun akan mendapatkan cinta Allah swt. Selain itu juga mengenal dan mencintai mereka yang dicintai oleh Allah swt, yaitu para Rasul, para anbiyya, para aulia, hamba-hamba Allah yang jujur, para syuhada, serta hamba-hamba Allah yang shaleh.
Saat kita sudah begitu mencintai allah swt, kita sangat merindukan perjumpaan dengan-Nya. dan dalam kehidupan seharihari, sangat senang menikmati ibadah dengan khusyuk dan bertaqarub kepada-Nya. Firman Allah swt: “Katakanlah: "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.Ali Imran: 31)
Kamis, Agustus 13, 2009
Janganlah Sombong
Ciri-ciri penyakit sombong biasanya sangat terlihat jelas dari penampilan orang yang mengidapnya. Setiap ucapan dan tingkah lakunya, nada suara dan senyum sinisnya, selalu menunjukkan keangkuhan. Nauzubillahi mindzalik…
Pantaskah sebenarnya orang bersikap sombong, jika seluruh kebaikan pada dirinya semata-mata hanya berkat kemurahan Allah swt kepadanya? Padahal jika Allah menghendaki, dia bisa terlahir sebagai (maaf) orang yang penuh dengan kekurangan. Tentu saja saat tidak ada lagi yang dapat disombongkan. Kita begitu rendah dan lemah dihadapan Allah swt.
Maka kita harus hati-hati mengahadapi penyakit hati ini. Langkah hati-hati ini bisa diawali dengan mengenali ciri-ciri kesombongan tersebut. Rasulullah saw bersabda: ”Sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan sesama manusia.” (HR. Muslim). Jika dalam hati kita ada satu atau kedua-duanya, maka kita akan masuk ke dalam deretan orang-orang sombong.
Bagaimana cara menghindari dari sikap sombong?
>Kita perlu mengetahui dan memahami ilmunya; apa dan bagaimana sombong itu, serta bahaya yang ditimbulkanya. Sadarilah, sifat sombong tidak disukai manusia, dan di akhirat mendapat siksa.
>Menyadari kelemahan dan keterbatasan diri sebagai manusia.
>Berlatih untuk berlapang dada menerima kebenaran dari siapa pun.
>Berlatih untuk rendah hati dan tidak memandang rendah orang lain. Di hadapan Allah swt semua orang sama, yang membedakan hanya ketakwaan.
>Senantiasa berdoa agar kita dijauhkan dari kesombongan.
Sebagai manusia biasa, terkadang suka timbul di hati rasa sombong tanpa kita sadari. Oleh karena itu, sebaiknya lekas-lekaslah mengucap istighfar memohon ampunan Allah swt.
Selasa, Agustus 11, 2009
Doa Adalah Ibadah
Berdoa dilakukan dengan kerendahan hati, memohon kepada Allah swt karena kita lemah di hadapan-Nya. berdoa merupakan perbuatan yang mulia. Betapapun banyaknya kebaikan seseorang bila tidak diiringi dengan kerendahan hati untuk memohon dan merasa butuh kepada Allah melalui doa, maka orang itu tidak akan memperoleh ganjaran atas segenap kebaikannya tersebut. Demikian diriwayatkan oleh istri Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam, Aisyah radhiyallahu ’anha.
Berkata Aisyah: “Ya Rasulullah, di masa jahiliyyah Ibnu Jud’an menyambung tali silaturrahim dan memberi makan kepada orang miskin. Apakah hal itu dapat memberikan manfaat bagi dirinya?” Nabi menjawab: “Semua itu tidak akan memberikan manfaat baginya karena sesungguhnya dia tidak pernah seharipun berdoa: ”Ya Rabbku, ampunilah kesalahanku pada hari kiamat.” (HR Muslim)
Sumber kemuliaan seseorang terletak pada kerajinan dan kesungguhannya berdoa dan bermunajat kepada Allah swt. Bahkan Nabi Muhammad saw menggambarkan kegiatan berdoa sebagai perkara yang paling mulia di sisi Allah swt. Nabi Muhammad saw bersabda:”Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah daripada doa.” (HR Ibnu Majah).
Berdoa dengan hati yang sungguh-sungguh mengharapkan dikabulkannya doa oleh Allah swt merupakan salah satu syarat terkabulnya doa kita. Nabi Muhammad saw bersabda: “Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan di-ijabah dan ketahuilah bahwa Allah tidak akan menerima doa dari hati yang lalai dan main-main.” (HR Tirmidzi)
Doa Nabi Daud as Memohon Cinta Allah
Rasulullah saw bersabda: “Di antara doa Nabi Daud asa ialah: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu cintaMu dan cinta orang-orang yang mencintaiMu dan aku memohon kepadaMu perbuatan yang dapat mengantarku kepada cintaMu. Ya Allah, jadikanlah cintaMu lebih kucintai daripada diriku dan keluargaku serta air dingin.” Dan bila Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam mengingat Nabi Daud ’alihis-salaam beliau menggelarinya sebaik-baik manusia dalam beribadah kepada Allah.” (HR Tirmidzi)
Setidaknya terdapat empat hal penting di dalam doa ini. Pertama, Nabi Daud as memohon cinta Allah. Beliau sangat faham bahwa di dunia ini tidak ada cinta yang lebih patut diutamakan dan diharapkan manusia selain daripada cinta yang berasal dari Allah Ar-Rahman Ar-Rahim (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Apalah artinya seseorang hidup di dunia mendapat cinta manusia –bahkan seluruh manusia- bilamana Allah tidak mencintainya. Semua cinta yang datang dari segenap manusia itu menjadi sia-sia sebab tidak mendatangkan cinta Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sebaliknya, apalah yang perlu dikhawatirkan seseorang bila Allah mencintainya sementara manusia –bahkan seluruh manusia- membencinya. Semua kebencian manusia tersebut tidak bermakna sedikitpun karena dirinya memperoleh cinta Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Sebab itulah Nabi Daud as tidak menyebutkan dalam awal doanya harapan akan cinta manusia. Beliau mendahulukan cinta Allah di atas segala-galanya. Beliau sangat menyadari bahwa bila Allah telah mencntai dirinya, maka mudah saja bagi Allah untuk menanamkan cinta ke dalam hati manusia terhadap Nabi Daud as. Tetapi bila Allah swt sudah mebenci dirinya apalah gunanya cinta manusia terhadap dirinya. Sebab cinta manusia terhadap dirinya tidak bisa menjamin datangnya cinta Allah kepada Nabi Daud as.
Dari Nabi Muhammad saw beliau bersabda: “Bila Allah mencintai seorang hamba, maka Allah berseru kepada Jibril: “Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka cintailah dia.” Jibrilpun mencintainya. Kemudian Jibril berseru kepada penghuni langit: ”Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka kalian cintailah dia.” Penghuni langitpun mencintainya. Kemudian ditanamkanlah cinta penghuni bumi kepadanya.” (HR. Bukhari)
Kedua, Nabi Daud as memohon kepada Allah cinta orang-orang yang mencintai Allah. Sesudah mengharapkan cinta Allah lalu Nabi Daud as memohon kepada Allah kasih sayang dari orang-orang yang mencintai Allah, sebab orang-orang tersebut tentunya adalah orang-orang beriman sejati yang sangat pantas diharapkan cintanya.
Hal ini sangat berkaitan dengan Al-Wala’ dan Al-Bara’ (loyalitas dan berlepas diri). Yang dimaksud dengan Al-Wala’ ialah memelihara loyalitas kepada Allah swt, Rasul-Nya dan orang-orang beriman. Sedangkan yang dimaksud dengan Al-Bara’ ialah berlepas diri dari kaum kuffar dan munafiqin. Karena loyalitas mu’min hendaknya kepada Allah swt, Rasul-Nya dan orang-orang beriman, maka Nabi Daud as berdoa agar dirinya dipertemukan dan dipersatukan dengan kalangan sesama orang-orang beriman yang mencintai Allah swt. Dan ia sangat meyakini akan hal ini.
Sesungguhnya Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersada: “Ruh-ruh manusia diciptakan laksana prajurit berbaris, maka mana yang saling kenal di antara satu sama lain akan bersatu. Dan mana yang saling mengingkari di antara satu sama lain akan berpisah.” (HR. Muslim)
Ketiga, Nabi Daud as memohon kepada Allah agar ditunjuki perbuatan-perbuatan yang dapat mendatangkan cinta Allah. Setelah memohon cinta Allah kemudian cinta para pecinta Allah, selanjutnya Nabi Daud as memohon kepada Allah agar ditunjuki perbuatan dan amal kebaikan yang mendatangkan cinta Allah. Ia sangat khawatir bila melakukan hal-hal yang bisa mendatangkan murka Allah. Beliau sangat khawatir bila berbuat dengan hanya mengandalkan perasaan bahwa Allah pasti mencintainya bila niat sudah baik padahal kualitas dan pelaksanaan amalnya bermasalah. Maka Nabi Daud as sangat memperhatikan apa saja perkara yang bisa mendatangkan cinta Allah pada dirnya. Di dalam Al Quran disebutkan bahwa Allah mencintai Ash-Shobirin (orang-orang yang sabar). Siapakah yang dimaksud dengan Ash-Shobirin? Apa sifat dan perbuatan mereka sehingga menjadi dicintai Allah?
”Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran ayat : 146)
Keempat, Nabi Daud as memohon kepada Allah swt agar menjadikan cinta Allah sebagai hal yang lebih dia utamakan daripada dirinya sendiri, keluarganya dan air dingin. Kemudian pada bagian akhir doa ini Nabi Daud as kembali menegaskan betapa beliau sangat peduli dan mengutamakan cinta Allah. Sehingga beliau sampai memohon kepada Allah agar cinta Allah yang ia dambakan itu jangan sampai kalah penting bagi dirinya daripada cinta dirinya terhadap dirinya sendiri, terhadap keluarganya sendiri dan terhadap air dingin.
Mengapa di dalam doanya Nabi Daud as perlu mengkontraskan cinta Allah dengan cinta dirinya sendiri, keluarganya dan air dingin? Sebab kebanyakan orang bilamana harus memilih antara mengorbankan diri dan keluarga dengan mengorbankan prinsip hidup pada umumnya lebih rela mengorbankan prinsip hidupnya. Yang penting jangan sampai diri dan keluarga terkorbankan. Kenapa air dingin? Karena air dingin merupakan representasi kenikmatan dunia yang indah dan menggoda. Pada umumnya orang rela mengorbankan prinsip hidupnya asal jangan mengorbankan kelezatan duniawi yang telah dimilikinya.
Jadi bagian terakhir doa Nabi Daud as mengandung pesan pengorbanan. Ia rela mengorbankan segalanya, termasuk dirinya sendiri, keluarganya sendiri maupun kesenangan duniawinya asal jangan sampai ia mengorbankan cinta Allah. Ia amat mendambakan cinta Allah. Nabi Daud as sangat faham maksud Allah di dalam Al-Qur’an:
“Katakanlah: "Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. At-Taubah : 24) (syahadat.com)
Sumber:eramuslim.com
Senin, Agustus 10, 2009
Menyikap Hidup Dengan Sabar
Adanya masalah dan cobaan bagi setiap orang bisa dijadikan salah satu barometer kualitas seseorang. Sejauh mana ia bisa berusaha dan bersabar dalam menghadapi serta menyelesaikannya. Tingkat kualitas ini, juga menggambarkan tentang keimanan seseorang, apakah tinggi atau lemah?
Rasulullah saw bersabda: “Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya mengandung kebaikan. Dan, hal itu tidak akan dimiliki kecuali oleh orang yang beriman.(Yaitu), jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur. Hal itu merupakan suatu kebaikan. Dan, jika tertimpa kesusahan, ia bersabar. Itu juga merupakan kebaikan.” (HR. Muslim).
Selain itu, masalah dan cobaan bisa menjadi lahan pembelajaran dalam hidup. Tidak akan ada orang besar, sukses, bahagia, dan mencapai derajat takwa, sebelum dirinya bisa bersabar. Kesabaran inilah yang mencetak seseorang menjadi kuat, konsisten, kaya pengalaman, matang, dan lebih dekat kepada petunjuk Allah swt sehingga dicintai-Nya.
Sabar merupakan kunci keberhasilan dalam berbagai aspek. Para nabi dan rasul Allah, mereka mendapatkan kemenangan gemilang dan memperoleh derajat mulia di sisi Allah swt, karena mereka bisa bersabar. Yakni, bersabar di dalam menjalankan ketaatan, bersabar di dalam menghadapi musibah, dan bersabar di dalam meninggalkan kemaksiatan.
Kita tidak mungkin tumbuh normal seperti sekarang, jika orangtua kita tidak sabar merawat kita. Kita tidak mungkin menikmati petunjuk Islam jika para ulama dahulu tidak sabar berdakwah. Kita juga tidak mungkin bisa hidup merdeka jika para pejuang kemerdekaan tidak bersabar menghadapi kejamnya penjajah. Dan lain sebagainya. Begitulah seterusnya.
Sabar menjadi media paling ampuh dan efektif dalam menghadapi segala persoalan hidup. Bagaimana dengan Anda, apakah sudah bersabar?
Ciri-Ciri Takwa
Setidaknya ada tiga ciri orang bertakwa. Pertama, ridho terhadap perintah Allah swt, seberat apa pun perintah tersebut. Kemudian ia bersungguh-sungguh menjalankannya, tentu sesuai kemampuan, walau nafsu tidak menyukainya. Kedua, ridho terhadap larangan Allah swt, senikmat apa pun larangan tersebut. Kemudian ia bersungguh-sungguh menjauhinya, walau nafsu sangat menyukainya. Ketiga, ridho terhadap apa pun yang Allah takdirkan kepada dirinya. Tidak berkeluh kesah, berputusa asa, serta berburuk sangka. Ridh di sini bukan berarti apatis. Ridho di sini adalah kesiapan hati menerima apa pun ketentuan Allah swt, serta berusaha optimal untuk mendapatkan takdir terbaik.
Kita tidak akan pernah mencapai derajat takwa tanpa memiliki kesungguhan untuk berproses, berlatih dan meminta kepada Allah swt. Namun, semua itu tidak berarti jika Allah tidak memberikan kuncinya kepada kita. Kunci tersebut adalah ilmu. Ilmu adalah kunci pembuka pintu gerbang ketakwaan, landasan semua amal. Sangat sulit mengetahui mana yang diperintahkan dan mana yang dilarang Allah, jika kita tidak memiliki pengetahuan tentang hal tersebut. Dan salah satu tanda kecintaan Allah kepada seorang hamba menurut adalah dikaruniainya kepahaman terhadap ilmu, terutama ilmu agama. Dengan ilmu tersebut ia bisa mengenal Allah, mengetahui mana yang boleh dan mana yang tidak, sehingga hidupnya lebih tertuntun.
Ketika kita bersungguh-sungguh menggapai tiga ciri takwa tersebut, optimal dalam beramal dan menjauhi maksiat, serta senantiasa tawakal dengan landasan ilmu, maka Allah akan mengaruniakan kekuatan ruhiyah kepada kita. Amal kebaikan yang kita lakukan akan menguatkan keimanan dalam diri kita. Semakin banyak amal saleh yang kita lakukan akan semakin kuat diri kita. Sedangkan jika amal keburukan atau maksiat yang lebih banyak dilakukan, maka akan mejadi lemahlah diri kita. Amal saleh, kebaikan dan ibadah yang selalu kita lakukan akan membuat komunikasi kepada Allah menjadi lancar, seakan kita dekat dengan-Nya. Sedangkan bila maksiat yang banyak dilakukan, kita akan jauh dari Allah swt. Nauzubillahiminzalik.
Apabila kekuatan ruhiyah kita sudah kuat, Insya Allah diri ini akan terasa tenang dan damai, resah gelisah dan kesempitan hidup akan dijauhkan dari kita, dan akan lebih terpelihara dari berbuat maksiat, Orang yang banyak beramal saleh tentunya memiliki tingkah laku yang baik, ucapannya tidak banyak namun bermakna dan bermanfaat. Selain itu, Allah swt juga akan memberikan kemudahan dalam beramal. Orang yang kuat ruhiyahnya memiliki energi yang sangat besar dalam beramal saleh. Apa yang disukai Allah akan ia lakukan dengan sungguh-sungguh. Ibadah-ibadah wajibnya senantiasa ia hiasi dengan ibadah-ibadah sunnah. Ia pun kecewa berat jika tertinggal dalam berbuat taat. Selain itu, ia akan dikaruniakan dengan doa yang mustajab. Sangat wajar jika doa-doanya diijabah, sebab ia memiliki ruhiyah yang kuat, iman dan takwa yang tinggi, sehingga kontaknya kepada Allah tidak terputus.
Semoga kita termasuk golongan orang-orang bertakwa, yang dikaruniai pemahaman agama serta kekuatan ruhiyah yang mantap. Amin.
Rabu, Mei 27, 2009
Cinta Dunia yang Berlebih
Rasulullah saw adalah contoh seorang pemimpin yang sangat dicintai umatnya; seorang suami yang menjadi kebanggaan keluarganya; pengusaha yang dititipi dunia tapi tak diperbudak oleh dunia karena beliau adalah orang yang sangat terpelihara hatinya dari silaunya dunia. Tidak ada cinta terhadap dunia kecuali cinta terhadap Allah. Kalaupun ada cinta pada dunia, hakikatnya itu adalah cinta karena Allah. Inilah salah satu rahasia sukses Rasulullah saw.
Apa yang dimaksud dengan dunia? Firman-Nya, “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan… Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadiid:20)
Dunia adalah segala sesuatu yang membuat kita lalai kepada Allah swt. Misalnya, salat, saum atau sedekah, tetap dikatakan urusan dunia jika niatnya ingin dipuji makhluk hingga hati lalai terhadap Allah swt.
Sebaliknya, orang yang sibuk siang malam mencari uang untuk didistribusikan kepada yang memerlukan atau untuk kemaslahatan umat — bukan untuk kepentingan pribadi — bukan untuk kepentingan pribadi terhadap Allah swt, walau aktivitasnya seolah duniawi. Artinya, segala sesuatu yang membuat kita taat kepada Allah swt, maka hal itu bukanlah urusan dunia.
Bagaimana ciri orang yang cinta dunia? Jika seseorang mencintai sesuatu, maka dia akan diperbudak oleh apa yang dicintainya. Jika orang sudah cinta dunia, maka akan datang berbagai penyakit hati. Ada yang menjadi sombong, dengki, serakah atau capek memikirkan yang tak ada. Makin cinta pada dunia, makin serakah. Bahkan, bisa berbuat keji untuk mendapatkan dunia yang diinginkannya. Pikirannya selalu dunia, pontang-panting siang malam mengejar dunia untuk kepentingan dirinya.
Ciri lainnya adalah takut kehilangan. Seperti orang yang bersandar ke kursi, maka akan takut sandarannya diambil. Orang yang bersandar ke pangkat atau kedudukan, maka ia akan takut pangkat atau kedudukannya diambil. Oleh sebab itu, pencinta dunia itu tidak pernah merasa bahagia.
Rasulullah saw yang mulia, walau dunia lekat dan mudah baginya, tetapi semua itu tidak pernah sampai mencuri hatinya. Misalnya, saat pakaian dan kuda terbaiknya ada yang meminta, beliau memberikannya dengan ringan. Beliau juga pernah menyedekahkan kambing satu lembah. Inilah yang membuat beliau tak pernah terpikir untuk berbuat aniaya.
Semua yang ada di langit dan di bumi titipan Allah swt semata. Kita tidak mempunyai apa-apa. Hidup di dunia hanya mampir sebentar saja. Terlahir sebagai bayi, membesar sebentar, semakin tua, dan akhirnya mati. Kemudian terlahir manusia berikutnya, begitu seterusnya.
Bagi orang-orang yang telah sampai pada keyakinan bahwa semuanya titipan Allah dan total milik-Nya, ia tidak akan pernah sombong, minder, iri ataupun dengki. Sebaliknya, ia akan selalu siap titipannya diambil oleh Pemiliknya, karena segala sesuatu dalam kehidupan dunia ini tidak ada artinya. Harta, gelar, pangkat, jabatan, dan popularitas tidak akan ada artinya jika tidak digunakan di jalan Allah. Hal yang berarti dalam hidup ini hanyalah amal-amal kita. Oleh sebab itu, jangan pernah keberadaan atau tiadanya “dunia” ini meracuni hati kita. Jika memiliki harta dunia, jangan sampai sombong, dan jika tidak adanya pun, tidak perlu minder.
Kita harus meyakini bahwa siapa pun yang tidak pernah berusaha melepaskan dirinya dari kecintaan terhadap dunia, maka akan sengsara hidupnya. Mengapa? Sumber segala fitnah dan kesalahan adalah ketika seseorang begitu mencintai dunia. Semoga Allah swt mengaruniakan pada kita nikmatnya hidup yang tak terbelenggu oleh dunia. Wallahu a’lam. (KH. Abdullah Gymnastiar)
Selasa, Mei 26, 2009
Ikhlas Karena Allah swt
Dunia adalah ujian bagi seluruh penghuninya, terutama manusia yang memang telah diciptakan dengan nafsu, akal, dan hati. Manusia yang memang telah ditakdirkan oleh Allah swt untuk menjadi khalifah di muka bumi, tentu tidak akan ada yang dapat terlewat dari jerat ujian dan cobaan hidup yang diberikan oleh Allah swt.
Ikhlas, adalah sebuah kata sederhana yang hanya tersusun dari lima huruf saja. Ikhlas, merupakan sebuah kata yang mengandung makna yang sangat indah. Kata ini sangat mudah untuk diucapkan, namun sangat sulit untuk direalisasikan.
Dalam ajaran agama Islam, kata ikhlas ini senantiasa dikaitkan dengan ridho Allah swt. Artinya, sebuah perbuatan baru dikatakan sebagai perbuatan yang ikhlas manakala tidak mengharapkan imbalan sekecil apapun, kecuali hanya mengharapkan balasan dan ridho Allah swt. Hal ini telah disampaikan oleh Allah swt di dalam Al Quran yang artinya:
“Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata: “Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebahagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah”, (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka).” (QS. At Taubah : 59)
Ikhlas, yaitu bersih dari segala bentuk pamrih dan harapan kepada selain Allah swt, sebesar apapun pamrih dan harapan tersebut. Satu-satunya harapan yang boleh dan wajib ada di dalam sebuah keikhlasan hanyalah keridhoan Allah swt semata. Berikut kami sajikan sekelumit kisah yang menggambarkan betapa pentingnya sifat ikhlas bagi manusia.
Abdullah bin ‘Umar ra berkata: Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda, ”Terjadi pada masa dahulu sebelum kamu, tiga orang berjalan-jalan hingga terpaksa bermalam dalam sebuah gua. Ketika mereka telah berada di dalam gua itu, tiba-tiba jatuh sebuah batu besar dari atas bukit dan menutupi pintu gua itu, hingga mereka tidak dapat keluar. Maka berkatalah mereka: “Sungguh, tiada suatu apapun yang dapat menyelamatkan kami dari bahaya ini, kecuali jika tawassul kepada Allah swt dengan amal-amal shalih yang pernah kami lakukan dahulu kala”. Maka berkatalah salah seorang dari mereka: “Ya Allah, dahulu saya mempunyai ayah dan ibu, dan saya biasa tidak memberi minuman susu kepada seorangpun sebelum keduanya (ayah-ibu), baik pada keluarga atau hamba sahaya, maka pada suatu hari agak kejauhan bagiku menggembala ternak, hingga tidak kembali pada keduanya, kecuali sesudah malam dan ayah bundaku telah tidur. Maka saya terus memerah susu untuk keduanya, dan sayapun tidak akan memberikan itu kepada siapapun sebelum ayah bunda itu. Maka saya tunggu keduanya hingga terbit fajar, maka bangunlah keduanya dan minum dari susu yang saya perahkan itu. Padahal semalam itu juga anak-anakku sedang menangis meminta susu itu, di dekat kakiku. Ya Allah, jika apa yang saya perbuat itu benar-benar karena mengharapkan keridhoan-Mu, maka lapangkanlah keaaan kami ini”. Maka menyisih sedikit batu itu, hanya saja mereka belum dapat keluar daripadanya.
Kemudian, berdoalah yang kedua dari mereka: “Ya Allah, dahulu saya pernah terikat cinta kasih pada anak gadis pamanku, maka karena rasa cinta kasihku itu, saya selalu merayu dan ingin berzina dengannya, tetapi ia selalu menolak hingga terjadi pada suatu saat ia menderita kelaparan dan datang meminta bantuan kepadaku, maka saya berikan kepadanya uang seratus dua puluh dinar, tetapi dengan janji bahwa ia akan menyerahkan dirinya kepadaku pada malam harinya. Kemudian ketika saya telah berada di antara kedua kakinya, tiba-tiba ia berkata: ‘Takutlah kepada Allah swt dan janganlah kau pecahkan tutup kecuali dengan cara yang halal’. Maka saya segera bangun daripadanya padahal saya masih tetap menginginkannya, dan saya tinggalkna dinar mas yang telah saya berikan kepadanya itu. Ya Allah, jika saya berbuat itu semata-semata hanya karena mengharap ridho-Mu, maka hindarkanlah kami dari kemalangan ini”. Maka bergeraklah batu itu menyisih sedikit, tetapi mereka masih belum dapat keluar dari gua tersebut.
Maka berdoalah orang ketiga dari mereka: “Ya Allah, saya dahulu sebagai majikan, mempunyai banyak buruh pegawai, dan pada suatu hari ketika saya membayar upah buruh-buruh itu, tiba-tiba ada seorang dari mereka yang tidak sabar menunggu, segera ia pergi meninggalkan upah dan terus pulang ke rumahnya tidak kembali. Maka saya pergunakan upah itu hingga bertambah dan berbuah hingga merupakan kekayaan. Kemudian setelah lama, datanglah buruh itu dan berkata: ‘Hai Abdullah, berikanlah kepadaku upahku yang dahulu itu!’ Jawabku: ‘Semua kekayaan yang di depanmu itu daripada upahmu yang berupa unta, lembu dan kambing serta budak penggembalanya itu’. Berkata orang itu: ‘Hai Abdullah, kamu jangan mengejek kepadaku’. Jawabku: ‘Aku tidak mengejek kepadamu. Maka diambilnya semua yang saya sebut itu dan tidak meninggalka satupun daripadanya’. Ya Allah, jika saya berbuat itu hanya karena mengharapkan keridhoan-Mu, maka hindarkanlah kami dari kesempitan ini”. Tiba-tiba menyisihlah batu itu hingga keluarlah mereka dengan selamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Sumber: Kitab Riyadhus Shalihin I
Dari sekelumit kisah di atas, dapat kita petik pelajaran bahwa sifat ikhlas yang hanya mengharapkan ridho Allah swt akan senantiasa mendapatkan balasan dari Allah swt. Dengan keikhlasan yang tertanam di dalam jiwa seorang muslim, niscaya Allah swt akan senantiasa memberikan kemudahan atau jalan keluar bagi setiap kesulitan dan berbagai macam cobaan yang menimpanya.
Wallahua’lam
Senin, Mei 25, 2009
Mengingat Allah dengan Dzikir
Dzikir adalah mengingat Allah swt dengan menyebut dan memuji nama-Nya. Orang beriman yang senantiasa mengingat Allah swt akan merasa tenang dan tenteram, karena Allah selalu ada dalam hati dan pikirannya. Allah swt berfirman: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar’rad:28). Bagi orang yang sedang merasakan kesusahan atau sedang dirundung suatu masalah besar, dzikir dapat membantu hatinya agar merasa tenang, serta berikhtiar dan mengembalikannya kepada Allah swt.
Berbeda dengan orang yang tidak pernah berdzikir, ia tidak pernah mengingat Allah, ia hanya memikirkan kehidupan di dunia, tanpa ingat siapa yang memberikan kenikmatan di dunia itu. Rasulullah saw bersabda: “Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah dengan yang tidak berdzikir itu seperti orang yang hidup dengan yang mati“. (HR. Bukhari). Maka sudah semestinya kita hidup di dunia ini selalu bersyukur kepada Allah swt.
Salah satu perwujudan rasa syukur kita yaitu dengan berdzikir (mengingat Allah). Dzikir juga merupakan ibadah seorang muslim yang sarat akan pahala. Allah swt memerintahkan kita untuk berdzikir sebanyak-banyaknya sebagai ibadah dan ketakwaan kepada-Nya, Firman swt:“Hai orang–orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak–banyaknya. Dan bertasbihlah kepada- Nya di waktu pagi dan petang.” (QS. Al Ahzab : 41–42).
Selain itu, terdapat beberapa faedah dzikir, antara lain:
- Mendapatkan ridho Allah swt, pahala, dan ampunan-Nya. Firman Allah swt: “Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al Ahzab : 35).
- Dengan mengingat Allah, Allah pun akan mengingat kita pula. Allah swt berfirman: “Karena itu, ingatlah kamu kepada Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu (dengan memberikan rahmat dan pengampunan)”. (Al Baqarah : 152)
- “Barangsiapa mengucapkan “LAA ILAAHA ILLALLAAH WAHDAHU LAA SYARIIKALAHU LAHUL MULKU , WALAHUL HAMDU WAHUWA ‘ALAA KULLI SYAI’IN QODIIR” (tidak ada ilah kecuali Allah, yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya pula segala pujian. Dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu) setiap hari 100x, niscaya ucapannya itu menyamai pahala membebaskan sepuluh budak. Juga, ditulis baginya 100 kebaikan, dan dihapus darinya 100 kejelekan. Juga, dalam sehari itu dia dijaga setan sampai sore harinya. Tidak ada seorang pun yang mengamalkan sesuatu yang lebih baik darinya selain orang yang mengucapkan lebih banyak darinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
- “Barangsiapa mengucapkan “SUBHAANALLOH WABIHAMDIHI” (Maha Suci Allah dengan segala pujian bagi-Nya) niscaya ditanamkan baginya sebatang pohon kurma di surga. (Hadist Shahih diriwayatkan oleh at-Tirmidzi)
- Dzikir dapat menjauhkan kita dari lisan yang tidak bermanfaat seperti ghibah dan sebagainya yang diharamkan oleh Allah swt, serta terhindar dari segala jenis penyakit hati. Dengan dzikir mulut kita selalu mengucapkan asma-Nya dan hati kita selalu mengingat-Nya.
- Dengan berdzikir berarti banyak menyebut nama Allah, dan kita akan beruntung. Firman Allah swt: “Dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (QS. Al Anfal : 45).
Jumat, Mei 22, 2009
Ikhlas
Dalam Rukun Iman keenam menyebutkan bahwa umat Muslim wajib mempercayai takdir dan ketentuan Allah SWT (Qada dan Qadar). Artinya, Allah SWT memiliki kuasa penuh atas jagad raya dan isinya, termasuk manusia sebagai salah satu ciptaan-Nya. Sebagai Sang Pencipta, Allah SWT sudah menuliskan takdir atas hambanya jauh sebelum ia dilahirkan ke dunia. Oleh karena itu, sebagai manusia kita hanya dapat menyempurnakan ikhtiar dengan melakukan amalan-amalan soleh dengan hati yang ikhlas.
Islam menganjurkan umatnya agar ikhlas dalam melakukan segala perbuatan. Ikhlas dalam beribadah, ikhlas dalam beramal, ikhlas dalam bekerja, ikhlas dalam menerima jalan hidup yang telah digariskan oleh Allah SWT.
Ikhlas artinya bersih, murni. Ikhlas dalam beribadah dan beramal soleh yaitu semata-mata hanya untuk Allah SWT dan mengharap ridho dari-Nya. Allah sangat mencintai umatnya yang beribadah dengan ikhlas. Seperti sabda Rasulullah SAW, “Hendaknya engkau beribadah kepada Allah seolah-oleh engkau melihat-Nya. Maka jika engkau tidak dapat melihat-Nya, sesungguhnya Ia melihatmu.” (HR. Muslim).
Ciri seorang mukmin yang ikhlas yaitu tidak mengharapkan pujian dari orang lain. Ia pun tidak mengharapkan balasan yang muluk-muluk dari Allah SWT, melainkan pahala, rahmat, dan ridho dari Alah SWT. Sebaliknya, bila seseorang melakukan suatu perbuatan bukan karena Allah maka ia akan terjerumus dalam perbuatan dosa, yaitu riya. Rasulullah SAW telah memperingati kita akan penyakit hati ini, “Sesungguhnya yang aku khawatirkan atas diri kalian adalah syirik kecil, yaitu riya.” (HR. Ahmad Shahih).
Selain ikhlas dalam beribadah dan beramal soleh, ikhlas juga dibutuhkan oleh setiap manusia dalam menerima takdir dan ketentuan Allah SWT. Kesenangan, kesusahan, kehidupan, kematian, dan lain sebagainya merupakan rahasia Allah yang tidak satupun manusia mengetahuinya lebih dulu. Seseorang yang ikhlas berarti ia dapat menerima apa yang telah Allah berikan kepadanya, tentunya setelah ikhtiar yang telah dilakukannya.
Ciri seorang mukmin yang ikhlas yaitu tidak cepat kecewa dan putus asa. Bila dalam doa dan usahanya Allah belum memberinya, ia akan menerimanya dengan keikhlasan. Begitupun bila Allah telah mengabulkan doanya dan memenuhi permintaannya, ia akan bersyukur dan menerimanya dengan hati yang ikhlas pula. Dengan keikhlasan, hatinya akan menjadi lapang dan Allah pun memberkahinya.
Dikisahkan pada suatu hari Ali bin Abi Thalib menemui ‘Adi bin Hatim yang nampak kusut masai. Raut mukanya menggambarkan kesedihan yang berat. Ali bin Abi Thalib bertanya padanya, “Mengapa engkau tampak bersedih hati?” Adi menjawab, “Bagaimana aku tidak sedih, sedangkan dua orang anakku terbunuh dan mataku tercongkel dalam pertempuran.” Ali menyahut, “Barang siapa ridho terhadap takdir Allah, maka takdir itu tetap berlaku atasnya dan ia mendapatkan pahala-Nya. Dan barang siapa yang tidak ridho terhadap takdir-Nya, maka takdir itu pun tetap berlaku atasnya dan terhapuslah pahalanya.”
Untuk itu, setiap umat muslim hendaknya ikhlas dan ridho atas apa yang telah ditentukan oleh Allah SWT. Sehingga dalam mengalami suatu ujian yang diberikan Allah SWT, kita tetap bisa bertawakal kepada-Nya.
Wallahu’alam
Menjaga Iman Islam
Setiap muslim wajib menjaga iman islam. Iman islam adalah pegangan utama yang harus dimiliki oleh setiap manusia. Tanpa iman islam, seseorang bagaikan pohon yang kekeringan karna tidak adanya siraman agama, dan akhirnya goyah bahkan mati secara rohani. Iman islam adalah akidah agama yang memang harus senantiasa dipupuk agar mendapatkan kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akhirat.
Iman islam dalam diri seseorang tergantung dari dirinya sendiri serta lingkungannya. Apabila ia memiliki kemauan untuk selalu memperdalam ilmu agamanya, serta lingkungannya pun mendukung, maka akan bertambahlah keimanannya itu. Namun apabila ia seolah hanya mementingkan kehidupan di dunia tanpa ingat akan kehidupan di akhirat kelak, maka dapatlah dikatakan ia tak memiliki iman islam.
Menjaga iman islam yaitu menjaga ketaatan dan ketakwaan kepada Allah swt. Semakin taat kepada Allah swt, maka semakin tinggi pula iman islam seseorang. Sebaliknya, orang yang selalu berpaling dari Allah swt dan perintah-perintah-Nya, dapat menyebabkan lemahnya iman islam. Kelemahan iman islam pun akan mengakibatkan orang tersebut selalu berbuat maksiat dan tidak pernah mengerjakan amal sholeh.
Berikut ini hal-hal yang dapat dilakukan dalam usaha menjaga dan mempertebal iman islam:
- Selalu mendekatkan diri kepada Allah swt.
- Mengenal Allah swt, nama-nama dan sifat-sifat Allah swt.
- Membaca dan mengkaji Al Quran karena didalamnya berupa ayat-ayat Allah, serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
- Memperbanyak berbuat kebaikan/amal-amal sholeh.
- Meninggalkan segalabentuk maksiat.
- Bergaul dengan orang-orang beriman.
- Menciptakan lingkungan yang islami, dapat dimulai dari rumah kita sendiri yaitu dengan ibadah-ibadah harian wajib dan sunnah, serta mengajari anak-anak kita. Kemudian tak lupa pula meramaikan masjid yang ada di lingkungan kita dengan sholat berjamaah dan majlis ta’lim.
Semoga Allah swt selalu memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita agar selalu bisa menjaga iman islam, bahkan meningkatkannya. Rasulullah saw menganjurkan kita untuk selalu beristiqomah dalam menjaga iman islam. Dari Abu ‘Amr Sufyan bin Abdillah ra: aku berkata kepada Rasulullah saw: “Wahai Rasulullah, sampaikanlah kepadaku satu perkataan yang aku tidak akan bertanya lagi setelahnya kepada selainmu.” Rasulullah saw bersabda: “Katakanlah aku beriman kepada Allah kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim)
Senin, Mei 18, 2009
Ridho Allah swt
Allah swt berfirman, “Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imran:159)
Ridho Allah terhadap Orang yang Berbuat Baik
Bila dilihat dari ayat di atas, jelas bahwa Allah swt memerintahkan kita untuk selalu berbuat baik terhadap sesama. Seseorang yang selalu berbuat baik akan diridhoi oleh Allah swt, sehingga iapun juga akan mendapat banyak kebaikan. Sebaliknya, bila seseorang selalu memperlihatkan wajah yang tidak bersahabat serta lisan yang tak terjaga maka orang-orang yang berada di sekelilingnya akan berpikir dua kali untuk terlibat pembicaraan dengannya, atau bahkan menghindarinya. Untuk itu, betapa pentingnya seseorang bersikap ramah kepada orang lain yang ada di sekitarnya.
Allah swt menyuruh kita untuk selalu menjaga perbuatan baik. Untuk mengimbangi perbuatan baik, diperlukan kata-kata atau ucapan yang baik pula. Allah swt tidak menyukai orang yang suka bersifat keras dan berkata kasar. Bila kita selalu berbicara atau mengucapkan kata-kata yang baik maka itu sama saja kita telah memberikan sedekah. Dari Abu Hurairah ra bahwasannya Nabi Muhammad saw bersabda,”Kata-kata yang baik itu adalah sedekah.” (HR. Bukhari Muslim).
Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim lainnya, Rasulullah saw bersabda, “Takutlah kamu sekalian terhadap api neraka walaupun hanya dengan menyedekahkan separuh biji korma; dan barang siapa yang tidak mendapatkannya maka cukup dengan kata-kata yang baik.”
Dari Abu Dzarr ra berkata, “Nabi Muhammad saw bersabda: “Janganlah sekali-kali kamu meremehkan sesuatu perbuatan baik walaupun hanya menyambut saudaramu dengan muka yang manis.” (HR. Muslim)
Allah swt akan mencintai umat-Nya yang berprilaku sesuai dengan apa yang dicontohkan Nabi Muhammad saw. Nabi Muhammad saw adalah sosok yang berhati lembut, penuh kasih sayang, dan selalu berbuat santun kepada siapapun. Nabi Muhammad saw selalu memberikan senyum dan mengucapkan salam kepada para sahabat dan sesama muslim yang dijumpainya, sehingga beliau semakin dicintai oleh para pengikutnya. Sebagaimana firman Allah swt, “Apabila kamu diberi penghormatan dengan salam penghormatan maka balaslah dengan yang lebih baik atau balaslah dengan yang sebanding. Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.” (QS. An Nisa:86)
Orang yang selalu berbuat dan berkata kasar akan jauh dari rahmat Allah swt. Sedangkan Islam mengajarkan kita untuk selalu menebarkan kasih sayang kepada seluruh umat manusia. Karena itu, sikap keras hati dan kasar sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Sebagai muslim yang baik, kita harus saling menghargai terhadap sesama serta saling memenuhi hak dan kewajiban masing-masing.
Sesuai dengan sikap yang dicontohkan nabi Muhammad saw, beliau hanya berlaku kasar kepada orang-orang kafir. Beliau tidak segan-segan memerangi orang-orang kafir yang memerangi agama Allah. Allah swt berfirman, "Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir." (QS. Al Fath:29).
Bila kita termasuk orang yang susah untuk beradaptasi dengan lingkungan di sekitar kita sehingga sulit untuk bersosialisasi, maka ada baiknya dimulai dari diri kita lebih dahulu untuk beramah tamah terhadap orang-orang di sekitar kita dan membiasakan untuk sopan dalam bertutur kata. Rasulullah saw pernah bersabda, "Ambillah (sikap yang sesuai dengan tetangga), sebelum kamu tinggal (di daerah/tempatnya)."
Selain itu, ingatlah bahwa Allah swt menciptakan manusia tidak sempurna, karena kesempurnaan itu hanyalah milik Allah swt. Hikmah yang dapat diambil adalah bagaimana kita menghargai keistimewaan di balik kekurangan dan kelebihan pada setiap manusia serta saling melengkapi satu sama lain. Di atas langit masih ada langit. Begitupun bila kita merasa diri kita selalu mampu berbuat apapun, suatu saat kita pasti membutuhkan orang lain. Dan yang terakhir, adanya perbedaan pendapat serta selisih paham adalah hal yang wajar. Hal ini seharusnya dapat dijadikan alat untuk kita mendewasakan diri, bukan untuk berrmusuhan. Bila semua umat di bumi ini saling mengasihi, Insya Allah kedamaian akan tercipta di dunia yang fana ini.
Perbuatan baik yang kita lakukan sudah sepatutnya diniatkan untuk mengharap ridho Allah dan demi mendapatkan balasan Surga Allah. Disertai dengan rahmat Allah, Insya Allah kita juga akan selalu ridho/ikhlas dalam segala perbuatan sehingga apa yang kita lakukan itu terjaga dari hal-hal yang buruk.
Wallahualam.
Jumat, Mei 15, 2009
Islam Agama Perdamaian
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An Nahl:125)
Agama Islam yang disebarkan dan diajarkan oleh Nabi Muhammad saw merupakan agama yang ditujukan demi kesejahteraan dan keselamatan seluruh umat sekalian alam. Kata Islam sendiri yang berasal dari bahasa Arab berarti tunduk, patuh, selamat, sejahtera, dan damai. Maka, agama Islam mengajarkan umatnya untuk selalu menegakkan perdamaian di dunia sehingga persaudaraan dapat terjalin dengan erat.
Sebelum Nabi Muhammad saw diutus oleh Allah swt untuk mengajarkan agama Islam, sejarah mencatat bahwa kehidupan manusia pada waktu itu dikenal sebagai masa Jahiliah. Di zaman Jahiliah itu banyak terjadi kezhaliman seperti pembunuhan, permusuhan, penindasan, dan lain sebagainya. Namun, setelah Nabi Muhammad saw diutus sebagai Rasul Allah dan menyampaikan ajaran Islam, bukti bahwa Islam agama perdamaian terwujud. Pengikut Nabi Muhammad saw berangsur-angsur banyak, Islam menjadi agama yang menjanjikan keselamatan dan kesejahteraan. Hal ini sesuai dengan firman Allah swt, “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al Anbiya:107)
Islam adalah agama yang memiliki konsep akan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah swt, Tuhan Yang Maha Esa, dengan panduan Al Quran dan As Sunnah. Kedamaian dan kesejahteraan umat adalah dasar utama yang diajarkan dalam Islam. Oleh karena itu, pembunuhan, permusuhan, dan perpecahan bukanlah ajaran yang berasal dari agama Islam.
Islam juga mengajarkan bagaimana menghadapi perpecahan dan segala perselisihan yang bermaksud memecah belah umat. Dalam Al Quran dijelaskan bahwa sejak zaman Rasul pun Islam selalu mendapat pertentangan dan serangan dari musuh-musuh Islam. Rasulullah saw difitnah dan dimusuhi. Namun beliau tetap istiqomah menjalankan syariat dari Allah swt. Dalam Al Quran menyebutkan, “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaithan-syaithan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (QS. Al An'am:112)
Begitu pula dalam surat Al Baqarah ayat 120: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.”
Sifat Rasul dalam menyampaikan ajaran Islam di zaman itu bisa menjadi teladan kita di tengah adanya berbagai fitnah maupun usah pemecahbelahan umat Islam yang akhir-akhir ini semakin menjadi, baik berupa film, tulisan, buku, dan lain sebagainya. Keimanan kita sebagai umat Islam sedang diuji oleh Allah swt, di mana kita merasa marah di kala kesucian Islam diporak-porandakan, sehingga Islam memiliki image yang buruk di mata dunia. Maka ingatlah kita akan firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 103: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.”
Semoga Allah selalu melindungi seluruh umat Islam di dunia, agar terlepas dari segala macam kezhaliman. Marilah kita selalu bertakwa kepada Allah swt dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya. Sesungguhnya orang yang bertakwa dipandang mulia dan ditinggikan derajatnya oleh Allah swt di dunia dan di akhirat.
Wallahualam bishshawab.
Meraih Kemuliaan Allah swt
Nabi Muhammad saw bersabda, “Kemuliaan umur dan waktu lebih bernilai dibandingkan dengan kemuliaan harta.”
Tak terasa kita selalu bekerja dari pagi hingga malam dari ke hari. Kita lelah memeras keringat demi mencari sebutir berlian dan sesuap nasi, demi kelangsungan hidup kita. Harta yang kita cari juga demi mendapatkan kemudahan, keberhasilan, kesuksesan, serta mencapai kemuliaan dalam hidup ini. Mengejar kekayaan, mencari ilmu pengetahuan, meraih jabatan dan kekuasaan, seolah telah menjadi mindset orang-orang di zaman sekarang.
Memang menjadi hal yang sangat wajar bila setiap orang menginginkan kemudahan dan berbagai hal tersebut. Menjadi manusia yang hidup di bumi ini memang banyak sekali kebutuhannya. Namun, kemuliaan hidup itu tidak hanya dilihat dari segi materi. Setiap manusia mulia dan sama derajatnya di hadapan Allah swt. Entah itu seorang direktur, selebriti, ulama, dan pengemis sekalipun. Dari situlah, bahwasannya tidak alasan bagi setiap umat untuk saling menghina, saling merendahkan, bahkan saling membunuh. Nauzubillahiminzalik….
Segala aktivitas kita yang bersifat duniawi itu terkadang membuat kita lupa akan urusan ukhrowinya. Kita sibuk mengejar materi sebagai bekal hidup di dunia sementara bekal untuk di akhirat kita lupakan. Sebagai muslim, mulai sekarang marilah kita seimbangkan antara hidup kita di dunia dengan bekal kita untuk kehidupan selanjutnya yang tentu saja lebih kekal, yaitu akhirat. Dan tentu saja, bekal untuk akhirat itu kita capai dengan sebaik mungkin sesuai dengan petunjuk Allah swt (Al Quran) dan ajaran Nabi Muhammad saw (As Sunnah).
Meraih kemuliaan dalam hidup, bila dilakukan berdasarkan syariat Isalam tersebut, Insya Allah tidak hanya dunia saja yang berhasil diraih, namun juga keselamatan akhirat yang dijanjikan Allah swt. Berikut ini ada beberapa hal yang dapat kita lakukan dalam usaha meraih kebahagiaan dan kemuliaan hidup di dunia serta di akhirat:
- Bersyukur
Selalu bersyukur atas apa yang telah Allah swt berikan kepada kita. Orang yang bisa bersyukur berarti ia ikhlas dan ridho dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Baik dalam kesenangan dan kesusahan, seorang muslim yang beriman akan selalu bertawakal kepada Allah swt. Bila kita diberi kemudahan, bersyukurlah dengan memperbanyak amal ibadah kita kepada Allah swt. Kalau kita sedang kesulitan, lihatlah orang yang lebih sulit dari kita. Kemudian syukurilah keadaan kita itu dengan berpasrah kepada Allah swt sambil terus berikhtiar. Ketahuilah bahwa orang yang bisa selalu bersyukur akan selalu merasa bahagia. Allah swt juga menyukai orang yang selalu bersyukur kepada-Nya, seperti dalam firman-firman-Nya:
“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).'' (QS. Ad-dhuha:11)
"Dan (ingatlah juga), ketika Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih'." (QS. Ibrahim: 7)
“Mereka (Para Jin) bekerja untuk Sulaiman sesuai dengan apa yang dikehendakinya, di antaranya (membuat) gedung-gedung yang tinggi, patung-patung, piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk-periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah wahai keluarga Daud untuk bersyukur kepada Allah. Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur”. (QS. Saba’:13)
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku”. (QS. Al-Baqarah: 152)
- Mencari harta yang halal
Ibadah yang kita lakukan seperti sholat, berpuasa, berdoa, berzikir dan lainnya tak akan menjadi berarti apabila kita mencari uang atau rizki dengan cara yang tidak halal. Bagaimana seseorang bisa menjadi mulia dengan banyak harta namun hartanya tersebut didapatkan dari hasil mencuri, korupsi, menipu, memanipulasi, berjudi, usaha prostitusi, ataupun usaha haram lainnya. Bila orang tersebut telah berkeluarga, sungguh kasihan sekali anak dan istrinya yang menelan hasil usaha haramnya tersebut. Kehalalan harta, materi, rezeki, hingga makanan yang kita terima sangat penting demi kelanjutan generasi kita selanjutnya, yang bebas dari berbagai macam penyakit dan hawa nafsu.
Firman-firman Allah swt tentang keharusan mencari harta/rezeki yang halal antara lain:
“Wahai manusia! Makanlah yang halal dan baik dari makanan yang ada di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, sungguh setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah:168)
“Wahai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya saja kamu menyembah.” (QS Al Baqarah:172)
“Wahai para Rasul! makanlah dari (makanan) yang baik, dan kerjakanlah amal saleh, sungguh Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Mu’minun:51)
“Wahai orang−orang yang beriman! Janganlah kamu mengharamkan apa yang baik dari yang telah dihalalkan Allah kepadamu, dan janganlah kamu melampaui batas, sungguh Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas.” (QS. Al Maidah:87)
- Memahami agama/ajaran Islam
Untuk menyeimbangan kebahagiaan/kemuliaan di dunia dan di akhirat, ada baiknya setiap muslim terus bersemangat dalam mempedalam dan memahami ajaran-ajaran Islam. Dengan adanya rasa semangat, seseorang akan terus belajar dan mencari ilmu guna memaknai kehidupan yang ia jalani di dunia. Semakin banyak belajar ia akan semakin mengerti tentang tujuan hidupnya, sehingga iapun semakin mencintai Penciptanya, Allah swt. serta Rasul-Nya, Nabi Muhammad saw. Tatkala ilmunya sudah tinggi dan mencukupi, ia tak akan merasa bangga dan berkuasa, sebaliknya, ia akan berbagi dengan orang lain dan mengajak mereka pada kebenaran.
Demikianlah, selain kita mengejar hal-hal penting yang bersifat duniawi, ada baiknya kita isi hidup ini dengan amal ibadah. Insya Allah hidup kita tidak akan sia-sia karenanya. Kita gunakan umur yang kita miliki ini untuk mempersiapkan diri kita di akhirat nanti. Wallahualam bishshawaab.
Selasa, Mei 12, 2009
Ikhlas Karena Allah swt
Dunia adalah ujian bagi seluruh penghuninya, terutama manusia yang memang telah diciptakan dengan nafsu, akal, dan hati. Manusia yang memang telah ditakdirkan oleh Allah swt untuk menjadi khalifah di muka bumi, tentu tidak akan ada yang dapat terlewat dari jerat ujian dan cobaan hidup yang diberikan oleh Allah swt.
Ikhlas, adalah sebuah kata sederhana yang hanya tersusun dari lima huruf saja. Ikhlas, merupakan sebuah kata yang mengandung makna yang sangat indah. Kata ini sangat mudah untuk diucapkan, namun sangat sulit untuk direalisasikan.
Dalam ajaran agama Islam, kata ikhlas ini senantiasa dikaitkan dengan ridho Allah swt. Artinya, sebuah perbuatan baru dikatakan sebagai perbuatan yang ikhlas manakala tidak mengharapkan imbalan sekecil apapun, kecuali hanya mengharapkan balasan dan ridho Allah swt. Hal ini telah disampaikan oleh Allah swt di dalam Al Quran yang artinya:
“Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata: "Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebahagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah", (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka).” (QS. At Taubah : 59)
Ikhlas, yaitu bersih dari segala bentuk pamrih dan harapan kepada selain Allah swt, sebesar apapun pamrih dan harapan tersebut. Satu-satunya harapan yang boleh dan wajib ada di dalam sebuah keikhlasan hanyalah keridhoan Allah swt semata. Berikut kami sajikan sekelumit kisah yang menggambarkan betapa pentingnya sifat ikhlas bagi manusia.
Abdullah bin ‘Umar ra berkata: Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda, ”Terjadi pada masa dahulu sebelum kamu, tiga orang berjalan-jalan hingga terpaksa bermalam dalam sebuah gua. Ketika mereka telah berada di dalam gua itu, tiba-tiba jatuh sebuah batu besar dari atas bukit dan menutupi pintu gua itu, hingga mereka tidak dapat keluar. Maka berkatalah mereka: “Sungguh, tiada suatu apapun yang dapat menyelamatkan kami dari bahaya ini, kecuali jika tawassul kepada Allah swt dengan amal-amal shalih yang pernah kami lakukan dahulu kala”. Maka berkatalah salah seorang dari mereka: “Ya Allah, dahulu saya mempunyai ayah dan ibu, dan saya biasa tidak memberi minuman susu kepada seorangpun sebelum keduanya (ayah-ibu), baik pada keluarga atau hamba sahaya, maka pada suatu hari agak kejauhan bagiku menggembala ternak, hingga tidak kembali pada keduanya, kecuali sesudah malam dan ayah bundaku telah tidur. Maka saya terus memerah susu untuk keduanya, dan sayapun tidak akan memberikan itu kepada siapapun sebelum ayah bunda itu. Maka saya tunggu keduanya hingga terbit fajar, maka bangunlah keduanya dan minum dari susu yang saya perahkan itu. Padahal semalam itu juga anak-anakku sedang menangis meminta susu itu, di dekat kakiku. Ya Allah, jika apa yang saya perbuat itu benar-benar karena mengharapkan keridhoan-Mu, maka lapangkanlah keaaan kami ini”. Maka menyisih sedikit batu itu, hanya saja mereka belum dapat keluar daripadanya.
Kemudian, berdoalah yang kedua dari mereka: “Ya Allah, dahulu saya pernah terikat cinta kasih pada anak gadis pamanku, maka karena rasa cinta kasihku itu, saya selalu merayu dan ingin berzina dengannya, tetapi ia selalu menolak hingga terjadi pada suatu saat ia menderita kelaparan dan datang meminta bantuan kepadaku, maka saya berikan kepadanya uang seratus dua puluh dinar, tetapi dengan janji bahwa ia akan menyerahkan dirinya kepadaku pada malam harinya. Kemudian ketika saya telah berada di antara kedua kakinya, tiba-tiba ia berkata: ‘Takutlah kepada Allah swt dan janganlah kau pecahkan tutup kecuali dengan cara yang halal’. Maka saya segera bangun daripadanya padahal saya masih tetap menginginkannya, dan saya tinggalkna dinar mas yang telah saya berikan kepadanya itu. Ya Allah, jika saya berbuat itu semata-semata hanya karena mengharap ridho-Mu, maka hindarkanlah kami dari kemalangan ini”. Maka bergeraklah batu itu menyisih sedikit, tetapi mereka masih belum dapat keluar dari gua tersebut.
Maka berdoalah orang ketiga dari mereka: “Ya Allah, saya dahulu sebagai majikan, mempunyai banyak buruh pegawai, dan pada suatu hari ketika saya membayar upah buruh-buruh itu, tiba-tiba ada seorang dari mereka yang tidak sabar menunggu, segera ia pergi meninggalkan upah dan terus pulang ke rumahnya tidak kembali. Maka saya pergunakan upah itu hingga bertambah dan berbuah hingga merupakan kekayaan. Kemudian setelah lama, datanglah buruh itu dan berkata: ‘Hai Abdullah, berikanlah kepadaku upahku yang dahulu itu!’ Jawabku: ‘Semua kekayaan yang di depanmu itu daripada upahmu yang berupa unta, lembu dan kambing serta budak penggembalanya itu’. Berkata orang itu: ‘Hai Abdullah, kamu jangan mengejek kepadaku’. Jawabku: ‘Aku tidak mengejek kepadamu. Maka diambilnya semua yang saya sebut itu dan tidak meninggalka satupun daripadanya’. Ya Allah, jika saya berbuat itu hanya karena mengharapkan keridhoan-Mu, maka hindarkanlah kami dari kesempitan ini”. Tiba-tiba menyisihlah batu itu hingga keluarlah mereka dengan selamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Sumber: Kitab Riyadhus Shalihin I
Dari sekelumit kisah di atas, dapat kita petik pelajaran bahwa sifat ikhlas yang hanya mengharapkan ridho Allah swt akan senantiasa mendapatkan balasan dari Allah swt. Dengan keikhlasan yang tertanam di dalam jiwa seorang muslim, niscaya Allah swt akan senantiasa memberikan kemudahan atau jalan keluar bagi setiap kesulitan dan berbagai macam cobaan yang menimpanya.
Wallahua’lamSenin, Mei 11, 2009
Menjaga Persaudaraan Islam
Rasulullah saw sendiri yang merupakan seorang manusia pilihan telah menunjukkan bagaimana seharusnya umat Islam senantiasa menjaga hubungan persaudaraannya. Melalui sabdanya, beliau telah begitu banyak mengingatkan kepada umatnya untuk senantiasa menjaga keutuhan persaudaraanya di dalam Islam, karena Islam adalah agama yang mengharamkan umatnya untuk memutuskan tali persaudaraan atau silaturahmi, terutama dengan saudara yang berada dalam satu naungan agama Islam.
Dari Abdullah bin Abi Aufa ra. berkata, ketika sore hari pada hari Arafah, pada waktu kami duduk mengelilingi Rasulullah saw, tiba-tiba beliau bersabda, "Jika di majelis ini ada orang yang memutuskan silaturahmi, silahkan berdiri, jangan duduk bersama kami." Dan ketika itu, diantara yang hadir hanya ada satu yang berdiri, dan itupun duduk di kejauhan. Kemudian lelaki itu pergi dalam waktu yang tidak lama, setelah itu ia pun datang dan duduk kembali.
Kemudian, Rasulullah saw pun bertanya kepadanya,"Karena diantara yang hadir hanya kamu yang berdiri, dan kemudian kamu datang dan duduk kembali, apa sesungguhnya yang terjadi? Ia kemudian berkata, "Begitu mendengar sabda Engkau, saya segera menemui bibi saya yang telah memutuskan silaturahmi dengan saya. Karena kedatangan saya tersebut, ia berkata, "Untuk apa kamu datang, tidak seperti biasanya kamu datang kemari." Lalu saya menyampaikan apa yang telah Engkau sabdakan. Kemudian ia memintakan ampunan untuk saya, dan saya meminta ampunan untuknya (setelah kami berdamai, lalu saya datang lagi ke sini).
Maka Rasulullah saw pun bersabda kepadanya, "Kamu telah melakukan perbuatan yang baik, duduklah, rahmat Allah tidak akan turun ke atas suatu kaum jika di dalamnya ada orang yang memutuskan silaturahmi."
Apa yang telah terjadi dalam riwayat tersebut di atas tentunya sangat sesuai sekali dengan firman Allah swt berikut:
“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat” (QS. Al Hujuraat: 10)
Mempererat persaudaraan Islam juga merupakan salah satu bentuk penegakan power Islam dalam kehidupan sehari-hari. Karena umat Islam yang satu dengan yang lain itu ibarat sebuah bangunan yang saling melengkapi dan saling menguatkan. Jika ada kekurangan dari saudaranya, maka sudah menjadi kewajibannyalah untuk senantiasa melengkapi atau menjaganya, bukan justru membuang atau memutuskannya. Umat muslim yang satu dengan yang lain ibarat satu tubuh yang jika salah satu anggota badannya mengalami sakit, maka seluruh tubuh akan merasakannya pula. Di sinilah kekuatan Islam akan terbentuk melalui sebuah hubungan persaudaraan yang kuat.
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan saling berempati bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggotanya merasakan sakit maka seluruh tubuh turut merasakannya dengan berjaga dan merasakan demam.” (HR. Muslim)
Rasulullah juga pernah bersabda, "Tidak ada satu kebaikan pun yang pahalanya lebih cepat diperoleh daripada silaturahmi, dan tidak ada satu dosapun yang adzabnya lebih cepat diperoleh di dunia, disamping akan diperoleh di akherat, melebihi kezaliman dan memutuskan tali silaturahmi." Dalam sebuah riwayat lain, dari Anas ra, ia berkata bahwa Rasullah saw bersabda, "Barangsiapa yang suka dilapangkan rezekinya dan dilamakan bekas telapak kakinya (dipanjangkan umurnya), hendaknya ia menyambung tali silaturahmi. (HR. Mutafaq ‘alaih)
Dalam riwayat lain, Rasulullah saw pernah ditanya oleh seorang sahabat, "Wahai Rasulullah kabarkanlah kepadaku amal yang dapat memasukkan aku ke surga". Rasulullah menjawab; "Engkau menyembah Allah, jangan menyekutukan-Nya dengan segala sesuatu, engkau dirikan shalat, tunaikan zakat dan engkau menyambung silaturahmi". (HR. Bukhari).
Dalil-dalil di atas telah menjelaskan betapa pentingnya arti dari sebuah persaudaraan Islam. Demikian penting dan vitalnya fungsi memperkuat persaudaraan Islam, hingga Rasulullah saw pun tidak mau mengakui orang yang tidak memiliki kepedualian terhadap urusan saudaranya sebagai umatnya, hal ini sebagaimana dikatakan oleh Rasulullah saw dalam sabdanya yang artinya:
Dari Hudzaifah Bin Yaman ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda, ”Siapa yang tidak ihtimam (peduli) terhadap urusan umat Islam, maka bukan termasuk golongan mereka.”. (HR. At Tabrani)
Setelah kita mengetahui urgensi dari sebuah persaudaraan di dalam Islam, mulai saat ini marilah kita mulai untuk senantiasa menyambung, mempererat, dan menjaga ikatan silaturahmi kita di jalan Islam. Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk dalam rangka menyambung, mempererat dan menjaga tali persaudaraan Islam, di antaranya adalah:
1. Ungkapakan Rasa Cinta Anda
Mengungkapkan rasa cinta yang selama ini dikenal di kalangan muda-mudi hanyalah sebatas menyatakan rasa cintanya kepada kekasihnya saja. Namun, Islam yang mengandung ajaran tertinggi memiliki cakupan yang lebih luas dari sekedar itu. Mengungkapkan rasa cinta ternyata juga sangat dibutuhkan dalam rangka mempererat persaudaraan dengan sesama umat Islam. Hal ini sebagaimana telah dianjurkan oleh Rasulullah saw dalam sabda-sabda beliau.
Rasulullah saw. bersabda, “Apabila seseorang mencintai saudaranya, hendaklah dia mengatakan cinta kepadanya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Dalam riwayat yang lain, Anas ra. mengatakan bahwa seseorang berada di sisi Rasulullah saw, lalu salah seorang sahabat melewatinya. Orang yang berada di sisi Rasulullah saw tersebut mengatakan, “Aku mencintai dia, ya Rasulullah.” Lalu Rasulullah saw bersabda, “Apakah kamu sudah memberitahukan dia?” Orang itu menjawab, “Belum.” Kemudian Rasulullah saw bersabda, “Beritahukan kepadanya.” Lalu orang tersebut memberitahukannya dan berkata, “Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah.” Kemudian orang yang dicintai itu menjawab, “Semoga Allah mencintaimu karena engkau mencintaiku karena-Nya.” (HR. Abu Dawud)
2. Tunjukkan Wajah Bahagia
Berjumpa dengan seseorang yang memiliki wajah berseri-seri tentunya akan menorehkan kenangan tersendiri. Wajah yang dengan senyum, penuh semangat dan tidak menunjukkan rona sendu akan menimbulkan kerinduan bagi saudaranya. Bisa saja dengan wajah berseri yang telah kita tunjukkan itu akan memberikan semangat positif bagi saudara yang kita jumpai. Dengan demikian, akan timbullah kerinduan untuk selalu ingin bertemu dan melihat wajah berseri itu.
Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah kamu meremehkan kebaikan apapun, walaupun sekadar bertemu saudaramu dengan wajah ceria.” (HR. Muslim)
3. Berjabat Tangan
Berjabat tangan adalah salah satu bentuk sentuhan fisik yang dapat menyentuh hati kedua pihak yang melakukannnya jika dilakukan dengan niat tulus dan penuh semangat karena Allah swt. Genggamlah tangan saudaramu dengan erat dan hangat, hingga semangat dalam jabat tangan itu dapat meresap dalam sanubari.
Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada dua orang muslim yang berjumpa lalu berjabat tangan melainkan keduanya diampuni dosanya sebelum berpisah.” (HR. Abu Dawud)
4. Saling Berkunjung
Selain dapat mempererat tali persaudaraan di dalam Islam, saling kunjung-mengunjungi adalah salah satu cara yang akan membawa kita untuk memperoleh cinta dari Allah swt. Hal ini senada dengan sabda Rasulullah saw berikut:
Nabi Muhammad saw bersabda, “Allah swt. berfirman, ‘Pasti akan mendapat cinta-Ku orang-orang yang mencintai karena Aku, keduanya saling berkunjung karena Aku, dan saling memberi karena Aku’.” (HR. Imam Malik dalam Al-Muwaththa’)
5. Memberikan Ucapan Selamat
Tak dapat dipungkiri lagi bahwa perhatian adalah salah satu bentuk tindakan yang sangat efektif untuk mempererat sebuah hubungan. Dan salah satu cara untuk menunjukkan perhatian kepada saudara kita adalah dengan mengucapkan selamat kepadanya manakala ia mendapatkan sebuah kesuksesan. Persaudaraan di dalam Islam dapat saja menjadi kendur hanya karena sifat saling acuh dan tidak peduli satu sama lain.
Dalam hal ini, Rasulullah saw telah bersabda, dari Anas bin Malik, Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa bertemu saudaranya dengan membawa sesuatu yang dapat menggembirakannya, pasti Allah akan menggembirakannya pada hari kiamat.” (HR. Thabrani dalam Mu’jam Shagir)
6. Saling Memberi Hadiah
Hadits marfu’ dari Anas bahwa, “Hendaklah kamu saling memberi hadiah, karena hadiah itu dapat mewariskan rasa cinta dan menghilangkan kekotoran hati.” (Thabrani)
Masih dalam hadits marfu’ Thabrani juga telah meriwayatkan, dari Aisyah ra. bahwa, “Biasakanlah kamu saling memberi hadiah, niscaya kamu akan saling mencintai.”
Kedua hadits di atas meskipun tergolong dalam hadits marfu’, namun memiliki makna yang sangat positif dan sangat mendukung perintah-perintah untuk mempererat persaudaraan di dalam Islam sebagaimana telah di sampaikan di dalam Al Quran dan Al Hadits.
7. Saling Membantu
Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang melepaskan kesusahan seorang mukmin di dunia niscaya Allah akan melepaskan kesusahannya di akhirat. Siapa yang memudahkan orang yang kesusahan, niscaya Allah akan memudahkan (urusannya) di dunia dan di akhirat. Siapa yang menutupi (aib) seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan di akhirat. Dan Allah selalu menolong hamba-Nya jika hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim)
Merujuk pada hadits di atas dapat di tarik kesimpulan bahwa sesungguhnya membantu saudara kita yang tengah mengalami kesulitan atau musibah, pada dasarnya adalah untuk membantu diri kita sendiri kelak. Karena barang siapa memudahkan orang lain yang sedang mengalami kesusahan, makan Allah swt akan memudahkan kesulitannya di akhirat kelak. Barang siapa menutup aib saudaranya, maka Allah swt lah yang kelak akan menutup aibnya di dunia dan di akhirat.
Sungguh, mempererat hubungan persaudaraan Islam adalah salah satu amal sholeh yang tiada terkira nilainya. Melalui hubungan persaudaraan Islam yang kuat, berarti kita telah membantu untuk menegakkan power di dalam tubuh Islam, sebagaimana di ketahui bahwa Rasulullah saw telah bersabda, “Seorang mukmin terhadap mukmin (lainnya) bagaikan satu bangunan, satu sama lain saling menguatkan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim). Semakin kuat hubungan persaudaraan Islam yang kita jalin, maka semakin kokoh pula bangunan Islam yang akan berdiri.
Dan tentunya, telah kita ketahui melalui dalil-dalil di atas bahwa begitu banyak imbalan yang akan kita dapatkan sebagai balasan atas perjuangan kita untuk mengikat Ukhuwah Islamiyah. Semoga kita semua termasuk ke dalam golongan orang-orang yang senantiasa mendapatkan balasan kebaikan dari Allah swt karena telah menjaga hubungan persaudaraan di dalam Islam. Amin.
Jumat, Mei 08, 2009
Tanda-Tanda Husnul Khotimah
Kematian merupakan suatu hal yang telah ditakdirkan oleh Allah swt. Setiap makhluk pasti akan kembali kepada-Nya. Dan setiap muslim yang beriman tentunya ingin kembali ke pangkuan Illahi dalam kondisi yang baik dan diridhoi oleh Allah swt, atau husnul khotimah. Sebagai makhluk ciptaan-Nya kita hanya bisa berdoa kepada Allah swt agar diberikan akhir yang baik pada hidup kita di dunia. Allah swt telah menetapkan tanda-tanda husnul khotimah. Berikut ini adalah tanda-tanda husnul khotimah serta golongan-golongan yang akan mendapatkannya:
1. Mengucapkan kalimat syahadat ketika wafat
Rasulullah bersabda:"Barangsiapa yang pada akhir kalimatnya mengucapkan "Laa ilaaha illallah" maka ia dimasukkan ke dalam surga." (HR. Hakim)
2. Ketika wafat dahinya berkeringat
Hal ini berdasarkan hadits dari Buraidah Ibnul Khasib, adalah dahulu ketika Buraidah di Khurasan, menengok saudaranya yang tengah sakit, namun didapatinya ia telah wafat, dan terlihat pada jidatnya berkeringat, kemudian ia berkata,"Allahu Akbar, sungguh aku telah mendengar Rasulullah bersabda: “Matinya seorang mukmin adalah dengan berkeringat dahinya." (HR. Ahmad, AN-Nasai, at-Tirmidzi, Ibnu MAjah, Ibnu Hibban, Al-Hakim dan ath-Thayalusi dari Abdullah bin Mas'ud)
3. Wafat pada malam Jumat
Rasulullah saw bersabda: "Tidaklah seorang muslim yang wafat pada hari jumat atau pada malam jumat kecuali pastilah Allah menghindarkannya dari siksa kubur." (HR. Ahmad)
4. Mati syahid dalam medan perang dan berjuang di jalan Allah
Hal ini terdapat dalam firman Allah swt: "Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka hidup disisi Tuhan-Nya dengan mendapat rezeki, mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikanNya kepada mereka dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka bahwa tidak ada kekawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahal orang-orang yang beriman." (Ali Imran:169-171)
Selain itu, terdapat pula dalam hadits sebagai berikut:
Rasulullah saw bersabda: "Bagi orang yang mati syahid ada 6 keistimewaan yaitu: diampuni dosanya sejak mulai pertama darahnya mengucur, melihat tempatnya di dalam surga, dilindungi dari adzab kubur, dan terjamin keamanannya dari malapetaka besar, merasakan kemanisan iman, dikawinkan dengan bidadari, dan diperkenankan memberikan syafa'at bagi 70 orang kerabatnya." (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)
Seorang sahabat Rasulullah berkata: "Ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan berkata: Wahai Rasulullah mengapa orang mukmin mengalami fitnah di kuburan mereka kecuali yang mati syahid? Beliau menjawab: Cukuplah ia menghadapi gemerlapnya pedang di atas kepalanya sebagai fitnah." (HR. an-Nasai)
Rasulullah saw bersabda: "Barang siapa yang memohon mati syahid kepada Allah dengan sungguh-sungguh, maka Allah akan menyampaikannya derajat para syuhada sekalipun ia mati diatas ranjangnya." (HR. Imam Muslim dan al-Baihaqi)
5. Wafat karena tenggelam serta karena penyakit tertentu seperti kolera, tuberculosis (TBC), dan busung perut
Rasulullah saw bersabda: "Mati di jalan Allah adalah syahid, dan perempuan yang mati ketika tengah melahirkan adalah syahid, mati karena terbakar adalah syahid, mati karena tenggelam adalah syahid, mati karena penyakit TBC adalah syahid, dan mati karena penyakit perut adalah syahid." (HR.Thabrani)
Dari Hafshah binti Sirin bahwa Anas bin Malik berkata: "Bagaimana Yahya bin Umrah mati? Aku jawab: "Karena terserang penyakit kolera." ia berkata: Rasulullah telah bersabda: penyakit kolera adalah penyebab mati syahid bagi setiap muslim." (HR. Bukhari, ath-Thayalusi dan Ahmad)
Aisyah bertanya kepada Rasulullah saw tentang penyakit kolera. Lalu beliau menjawab;"Adalah dahulunya penyakit kolera merupakan adzab yang Allah timpakan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya kemudia Dia jadikan sebagai rahmat bagi kaum mukmin. Maka tidaklah seorang hamba yang dilanda wabah kolera lalu ia menetap dikampungnya dengan penuh kesabaran dan mengetahui bahwa tidak akan menimpanya kecuali apa yang Allah tetapkan baginya pahala orang yang mati syahid"(HR. Bukhari, al-Baihaqi dan Ahmad)
6. Perempuan yang wafat karena melahirkan
Dari Ubadah ibnush Shamit ra bahwa Rasulullah saw menjenguk Abdullah bin Rawahah yang tidak bisa beranjak dari pembaringannya, kemudian beliau bertanya : "Tahukah kalian siapa syuhada dari ummatku? Orang-orang yang ada menjawab: Muslim yang mati terbunuh" Beliau bersabda: “Kalau hanya itu para syuhada dari ummatku hanya sedikit. Muslim yang mati terbunuh adalah syahid, dan mati karena penyakit kolera adalah syahid, begitu pula perempuan yang mati karena bersalin adalah syahid (anaknya yang akan menariknya dengan tali pusarnya kesurga)." (HR. Ahmad, Darimi, dan ath-Thayalusi)
7. Wafat karena mempertahankan harta dari perampok
Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa yang mati karena mempertahankan hartanya adalah syahid." (HR. Bukhari, Muslim, Abu DAud, an-Nasa'i, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)
Abu Hurairah berkata, seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw seraya berkata: "Ya, Rasulullah, beritahukanlah kepadaku bagaimana bila ada seseorang yang datang dan akan merampas hartaku" Beliau menjawab: “jangan engkau berikan” Ia bertanya; bagaimana kalau ia membunuhku? Beliau menjawab: Engkau mati syahid. Orang itu bertanya kembali; Bagaimana kalau aku yang membunuhnya? Beliau menjawab: ia masuk neraka." (HR. Imam Muslim, an-Nasa'i dan Ahmad)
8. Mati dalam membela agama dan jiwa
Rasulullah saw bersanda: "Barangsiapa mati terbunuh dalam membela hartanya maka ia mati syahid, dan siapa saja yang mati dalam membela keluarganya maka ia mati syahid, dan barang siapa yang mati dlam rangka membela agama(keyakinannya) maka ia mati syahid, dan siapa saja yang mati mempertahankan darah (jiwanya) maka ia syahid." (HR. Abu Daud, an-Nasa'i, at-tirmidzi, dan Ahmad)
9. Orang yang selalu mengerjakan amal saleh hingga akhir hidupnya, termasuk meninggal dalam keadaan sedang menjalankan ibadah kepada Allah swt.
Dari Ali bin Abi Tholib ra, dia berkata : "Suatu hari saya akan menunaikan sholat subuh di masjid bersama Rasulullah saw, tapi di tengah jalan aku bertemu dengan seseorang yang sudah renta juga mau ke masjid untuk menunaikan sholat subuh, aku terus berjalan di belakangnya, dan ketika kami berdua sampai di masjid ternyata sholat berjamaah sudah usai, akhirnya aku sholat subuh berjamaah dengan kakek itu, dan ketika aku salam tahiyyat akhir si kakek tetap bersujud dan ternyata si kakek telah meninggal dunia, lalu para sahabat bertanya kepada Rasulullah saw, "Ya Rasulullah, bagaimana keadaan kakek ini di akhirat?" Rasulullah saw menjawab, "Dia masuk surga" (HR Ahmad & Daruqutni)
10. Ketika wafat, wajahnya terlihat tenang, damai, dan tersenyum seolah-olah ia melihat bidadari di syurga
Dari Abu Darda ra, Rasulullah saw bersabda: "Tidak akan keluar ruhnya seorang mukmin sampai dia melihat tempatnya di surga, dan tidak akan keluar ruhnya seorang kafir sampai dia melihat tempatnya di neraka" (HR Al-Baihaqi)
Allah swt pun Merasa Heran
Allah swt adalah zat yang Maha Sempurna. Dia Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Mengetahui segala sesuatu, baik yang jelas, samar, maupun tersembunyi. Allah swt Maha Mengetahui segala sesuatu yang tersurat maupun yang tersirat, yang di dalam hati, di dalam kepala, maupun yang terucap melalui lisan. Tidak ada sesuatu pun yang dapat sembunyi maupun tersembunyi dari pengawasan Allah swt, segalanya terlihat dan terdengar dengan jelas. Tapi pernahkah kita berpikir atau bertanya, pernahkah Allah swt yang Maha Sempurna itu merasa heran kepada sesuatu atau seseorang?
Secara logika, harusnya tidak ada yang perlu diherankan oleh Allah swt. Karena DIA telah mengetahui segala sesuatu yang telah terjadi, akan terjadi, dan tidak akan terjadi. Namun, kenyataannya tidaklah demikian. Allah swt pun ternyata telah mengakui bahwa DIA memiliki rasa heran terhadap keturunan Adam dalam beberapa hal. Hal ini sebagaimana firman Allah swt dalam sebuah hadits Qudsi yang artinya:
- Wahai manusia, Aku sangat heran kepada seseorang yang mempercayai pastinya kematian, tetapi mengapa ia masih selalu bersenang-senang saja (tidak mempersiapkannya).
- Aku sangat heran terhadap seseorang yang mempercayai adanya perhitungan (pemeriksaan) seluruh amal perbuatannya (waktu di dunia), tetapi mengapa ia masih gigih mengumpulkan harta (dengan jalan yang bathil).
- Aku sangat heran terhadap seseorang yang akan bertempat di dalam kubur, tetapi mengapa ia masih tertawa-tawa saja (tidak mempersiapkannya).
- Aku sangat heran terhadap seseorang yang mempercayai adanya hari akhirat, tetapi mengapa ia masih bersantai-santai saja di dunia ini (tidak beramal sholeh).
- Aku sangat heran terhadap seseorang yang mempercayai bahwa dunia ini akan fana, tetapi mengapa ia masih dalam keadaan tenang-tenang saja (tidak segera beramal sholeh).
- Aku sangat heran terhadap seseorang yang pandai berbicara saja tetapi ia lengah (mensucikan hatinya).
- Aku sangat heran terhadap seseorang yang bisa membersihkan sesuatu dengan air, tetapi mengapa ia tidak membersihkan hatinya.
- Aku sangat heran terhadap seseorang yang pandai mengoreksi kesalahan orang lain, tetapi mengapa ia tidak mampu untuk mengoreksi dirinya sendiri.
- Aku sangat heran terhadap seseorang yang mengetahui bahwa Allah swt (setiap saat senantiasa) mengawasinya, tetapi mengapa ia masih saja suka berbuat jahat.
- Aku sangat heran terhadap seseorang yang mengetahui bahwa ia apabila mati hanya sendirian, masuk ke dalam kubur juga sendirian, mempertanggung jawabkan amal perbuatannya juga sendirian, tetapi mengapa ia masih saja bersenang-senang dengan manusia (tidak mempersiapkannya). Tiada Tuhan Yang sebenarnya selain Aku (Allah swt) dan Nabi Muhammad saw adalah utusan-Ku.
Demikianlah Rasulullah saw menyampaikan Firman Allah swt melalui sebuah hadits Qudsi. Begitu banyak kesalahan dan dosa yang telah kita lakukan, baik yang sengaja maupun tidak sengaja kita lakukan, baik yang kita sadari maupun tidak kita sadari. Begitu banyak keburukan-keburukan yang telah dibungkus dengan indah dan rapih oleh syaithan laknatullah, sehingga kita tidak menyadarinya. Segalanya jadi tampak putih, segalanya jadi tampak bersih. Syaithan telah benar-benar mempermainkan kita, menipu kita, membutakan mata dan menutup telinga kita. Tanpa terasa, ternyata kita sudah berada di tengah-tengah lumpur dosa yang hitam legam.
Semoga hadits Qudsi tersebut dapat menjadi bahan renungan bagi kita semua, sehingga kita dapat menyadari kekhilafan dan kealpaan kita dalam menjalani kehidupan ini, sehingga kita dapat memperbaiki diri dan menjadi manusia-manusia yang lebih baik. Amin.Muslim, Mukmin, Muttaqi
Muslim adalah orang yang beragama Islam, berserah diri, tunduk dan taat kepada perintah Allah swt dan Rasul-Nya.
Allah swt berfirman: “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS. Fushilat: 33)
Muslim merupakan sebutan untuk pria beragama Islam sedangkan muslimah sebutan untuk wanita Islam.
Mukmin adalah orang-orang yang beriman dengan rukun iman dalam hati, perkataan dan perbuatanya.
Allah swt berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al Hujurat: 15)
Seorang mukmin sejati memiliki iman yang teguh dan kuat, tidak mudah goyang atau rapuh, senantiasa mengerjakan kebaikan, sabar dalam menghadapi cobaan, dan meminta pertolongan hanya kepada Allah swt.
Muttaqi adalah orang yang bertakwa kepada Allah swt dan takut kepada-Nya, serta menjauhkan dri dari neraka dan dari adzab-Nya dengan senantiasa mengerjakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
Muttaqi memiliki sifat sifat sebaimana tersebut dalam ayat berikut: ”(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan sholat dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.” (QS. Al Baqarah 3-4)
