Kamis, Mei 07, 2009

Suami Istri Teladan


Umat muslim merupakan sebuah kesatuan yang utuh. Di dalamnya ada orang-orang yang memiliki perbedaan pemikiran, namun diikat dalam sebuah ikatan persaudaraan yang kokoh, yaitu Al Qur’an dan Sunnah. Untuk membentuk sebuah masyarakat muslim yang kokoh, berawal dari sebuah keluarga muslim yang baik pula.

Jika diibaratkan, umat muslim adalah sebuah bangunan, dan keluarga muslim merupakan tiang yang menyangga bangunan tersebut agar tetap berdiri. Apabila keluarga-keluarga yang menjadi penyangga adalah keluarga yang berpegang teguh pada ajaran Al Qur’an dan Sunnah Rasul, maka masyarakat yang terbentuk pun tidak akan jauh dari syariat islam. Namun jika keluarga yang menopangnya “keropos”, dapat dipastikan bahwa masyarakatnya pun akan keropos. Seperti bangunan yang disangga dengan tiang yang sudah rapuh, maka suatu saat bangunana itu akan ambruk.

Sebuah keluarga dibangun oleh sepasang suami istri. Keduanya mempunyai peran yang penting dalam menentukan arah keluarganya. Seorang suami harus mampu memimpin keluarganya menuju ke jalan yang diridhoi Allah SWT. Seorang istri harus mampu mendukung suaminya dan mendidik anak-anaknya agar menjadi insane yang berakhlak mulia dan selalu berpegang teguh pada ajaran agama islam.

Untuk mampu mewujudkan hal tersebut, seringkali suami istri butuh seorang pembanding, yang dapat menjadi teladan bagi dirinya. Mereka akan mencari sosok yang dianggap sesuai untuk dijadikan contoh dalam membina keluarga yang sakinah mawaddah warahmah. Bagi umat islam, keluarga Rasulullah Muhammad saw dapat menjadi teladan yang tepat. Rasulullah saw merupakan seorang suami yang dapat menjadi teladan bagi suami-suami di dunia bagaimana memimpin keluarga menu mardhotillah. Sedangkan istri-istri sholehah dapat mengambil Ummahatul mukmini, salha satunya Khadijah binti Khuwailid, sebagai panutannya.

Rasulullah Muhammad saw; contoh suami teladan

Sudah banyak kisah yang mengulas tentang masa kecil Rasulullah saw. Karena itu, tulisan ini hanya akan menitik-beratkan pada ajaran Rasulullah saw yang berkaitan dengan keluarga.

Rasulullah saw sejak masa remaja sudah terkenal sebagai orang yang bersih dan berbudi mulia. Ketika menginjak usia 25 tahun, Beliau saw menikahi Khadijah binti Khuwailid. Sejak saat itulah beliau mengarungi kehidupan rumah tangga bahagia penuh ketentraman dan ketenangan.

Rasulullah saw amat menghormati wanita, lebih-lebih istrinya. Beliau saw bersabda, “Tidaklah orang yang memuliakan wanita kecuali orang yang mulia; dan tidaklah yang menghinakannya kecuali orang yang hina.”

Rasulullah saw merupakan contoh suami teladan dalam kehidupan rumah tangga. Beliau saw sering bercanda dan bergurau dengan istri-istrinya. Dalam satu riwayat Beliau saw balapan lari dengan Aisyah, terkadang beliau dikalahkan dan pada hari lain beliau menang. Beliau saw senantiasa menegaskan pentingnya sikap lemah lembut dan penuh kasih sayang kepada istri.

Kita jumpai banyak hadits yang seirama dengan hadits berikut, “Orang mukmin yang paling sempurna adalah yang paling baik akhlaknya dan paling lembut pada keluarganya.” Riwayat lain, “Sebaik-baik di antara kamu adalah yang paling baik pada keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.”

Di antara yang menunjukkan keteladanan Beliau saw dalam menghormati istri adalah menampakkan sikap lembut, penuh kasih sayang, tidak mengkritik hal-hal yang tidak berguna untuk dikritik, memaafkan kekeliruannya, dan memperbaiki kesalahannya dengan lembut dan sabar. Bila ada waktu senggang Beliau saw ikut membantu istrinya dalam mengerjakan kewajiban rumah tanggan.

Aisyah pernah ditanya tentang apa yang pernah dilakukan Rasulullah saw di rumahnya, beliau menjawab, “Rasulullah mengerjakan tugas-tugas rumah tangga, dan bila datang waktu shalat, dia pergi shalat.”

Rasulullah saw memiliki kelapangan dada dan sikap toleran terhadap istrinya. Bila istrinya salah atau marah, beliau memahami betul jiwa seorang wanita yang sering emosional dan berontak. Beliau memahami betul bahwa rumah tangga adalah tempat yang paling layak dijadikan contoh bagi seorang muslim adalah rumah tangga yang penuh cinta dan kebahagiaan. Kehidupan rumah tangga harus dipenuhi gelak tawa, kelapangan hati, dan kebahagiaan agar tidak membosankan.

Bila terpaksa harus bertindak tegas, Rasulullah saw melakukannanya dengan disertai kelembutan dan kerelaan. Sikap keras dan tegas untuk mengobati keburukan dalam diri wanita, sedangkan kelembutan dan kasih sayang untuk mengobati kelemahan dan kelembutan dalam dirinya.

Khadijah; Istri Teladan Wanita Muslimah

Khadijah binti Khuwailid adalah seorang wanita bangsawan Quraisy yang kaya. Dia diberi gelar wanita suci di masa jahiliyah, juga di masa Islam. Banyak pembesar Quraisy berupaya meminangnya, tetapi ia selalu menolak. Ia pedagang yang sering menyuruh orang untuk menjualkan barang dagangannya keluar kota Mekkah.

Ketika mendengar tentang kejujuran Muhammad, ia menyuruh pembantunya mendatangi dan meminta Muhammad menjualkan barang dagangannya ke Syam bersama budak lelaki bernama Maisyarah. Muhammad menerima permohonan itu dan mendapatkan keuntungan besar dalam perjalanan pertama ini.
Setelah mendengar kejujuran dan kebaikan Muhammad, Khadijah tertarik dan meminta Nafisah binti Maniyyah, untuk meminangkan Muhammad. Beliau menerima pinangan itu dan terjadilah pernikahan ketika beliau berusia 25 tahun sedangkan Khadijah berusia 40 tahun.

Khadijah sebagai Ummul Mukminin telah menyiapkan rumah tangga yang nyaman bagi Nabi Muhammad saw, baik saat sebelum beliau diangkat menjadi Nabi dan membantunya ketika beliau sering berkhalwat di Gua Hira. Khadijah adalah wanita pertama yang beriman ketika Nabi mengajaknya masuk Islam. Khadijah adalah sebaik-baiknya wanita yang mendukung Rasulullah saw dalam melaksanakan dakwahnya, baik dengan jiwa, harta, maupun keluarganya.
Rasulullah saw. pernah menyatakan dukungan ini dengan sabdanya, “Khadijah beriman kepadaku ketika orang-orang ingkar. Dia membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku. Dan dia menolongku dengan hartanya ketika orang-orang tidak memberiku apa-apa. Allah mengaruniai aku anak darinya dan mengharamkan bagiku anak dari selainnya.” (Imam Ahmad dalam kitab Musnad-nya)

Khadijah amat setia dan taat kepada suaminya, bergaul dengannya, siap mengorbankan kesenangannya demi kesenangan suaminya, dan membesarkan hati suaminya di kala merasa ketakutan setelah mendapatkan tugas kenabian. Ia gunakan jiwa dan semua hartanya untuk mendukung Rasul dan kaum muslimin. Pantaslah kalau Khadijah dijadikan sebagai istri teladan pendukung risalah dakwah Islam.

Khadijah mendampingi Rasulullah saw selama seperempat abad. Berbuat baik di saat Rasulullah gelisah. Menolong Rasulullah di waktu-waktu sulit. Membantu Rasulullah dalam menyampaikan risalah dan ikut merasakan penderitaan pahit akibat tekanan dan boikot orang-orang musyrik Quraisy. Khadijah menolong tugas suaminya sebagai Nabi dengan jiwa dan hartanya.

Rasulullah saw. senantiasa menyebut-nyebut kebaikan Khadijah selam hidupnya sehingga membuat Aisyah cemburu. Dengan ketaatan dan pengorbanan yang luar biasa itu, pantaslah jika Allah swt. menyampaikan salam lewat malaikat Jibril kepada Khadijah.

Jibril datang kepada Nabi, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, ini Khadiah telah datang membawa sebuah wadah berisi kuah, makanan dan minuman, apabila datang kepadamu sampaikan salam dari Tuhannya dan beritahukan kepadanya tentang sebuah rumah di surga, terbuat dari mutiara yang tiada suara gaduh di dalamnya dan tiada kepenatan.” (Bukhari)

Itulah Khadijah, sosok seorang istri yang layak dijadikan teladan bagi wanita-wanita yang mendukung keshalehan dan tugas dakwah suaminya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar